Meski Selat Hormuz Dibuka, Krisis Energi Belum Usai - ni Alasannya

Berita Terkini - Diposting pada 26 March 2026 Waktu baca 5 menit

REUTERS/Stringer

Konflik di kawasan Teluk kini telah memasuki pekan keempat. Selama serangan Iran terhadap kapal-kapal masih berlangsung dan Selat Hormuz tetap tertutup, sekitar seperlima produksi minyak serta liquefied natural gas (LNG) dunia tertahan dan tidak dapat disalurkan ke pasar global.

 

Artinya, setiap hari pelaku pasar terus memperbarui estimasi jumlah pasokan energi global yang hilang tahun ini. Semakin besar perkiraan kekurangan tersebut, semakin tinggi pula harga energi yang terbentuk.

 

Harga minyak Brent memang sempat turun ke level US$99 per barel pada Rabu (25/3/2026) pukul 14.57 WIB. Sebelumnya, pada 19 Maret 2026, harga Brent sempat menyentuh US$119 per barel atau sekitar 76% lebih mahal dibandingkan sebelum konflik terjadi. Di sisi lain, harga gas di Eropa melonjak hingga 85%.

 

Alasan harga energi belum meningkat lebih tinggi adalah karena investor masih berharap aliran pasokan akan segera kembali normal.

 

Menurut Société Générale yang dikutip dari The Economist, jumlah posisi di pasar keuangan yang memperkirakan harga akan turun (put option) masih lebih besar dibandingkan yang memperkirakan kenaikan harga (call option) untuk pengiriman Juli dan seterusnya.

 

Dengan mempertimbangkan keterlambatan distribusi, hal ini menunjukkan bahwa investor masih berharap kondisi akan pulih pada bulan Mei.

 

Namun, berdasarkan perhitungan The Economist, apabila Iran menanggapi ancaman Donald Trump pada Sabtu (21/3/2026) untuk membuka kembali selat dalam waktu 48 jam—yang masih merupakan kemungkinan tetapi belum pasti terjadi—pasar minyak dan gas global tetap akan mengalami kekurangan pasokan selama berbulan-bulan, yang pada akhirnya akan membebani perekonomian dunia.

 

Pasar Energi Tidak Akan Pulih Cepat

Permasalahan pertama berasal dari sisi produksi. Karena tidak dapat mengekspor dan terbatasnya kapasitas penyimpanan, negara-negara Teluk telah memangkas produksi minyak mentah secara kolektif sebesar 10 juta barel per hari.

 

Jumlah ini setara dengan sekitar 10% produksi global dan 40% dari tingkat produksi mereka sebelum konflik.

Untuk mengembalikan produksi ke kondisi semula, produsen tidak bisa langsung mengaktifkan seluruh fasilitas. Mereka harus memastikan fasilitas masih berfungsi, membersihkan saluran pipa, serta menghidupkan kembali sumur minyak secara bertahap agar tekanan reservoir tidak rusak. Setelah itu, fasilitas pengolahan awal seperti separator, kompresor, dan unit pemrosesan juga harus diaktifkan kembali, yang semuanya memerlukan waktu tambahan.

 

Meskipun negara-negara Teluk sebagai anggota OPEC terbiasa menyesuaikan produksi dalam hitungan hari, pemangkasan kali ini jauh lebih besar dan mendadak dibanding sebelumnya. Para ahli memperkirakan proses pemulihan ini membutuhkan waktu antara dua hingga empat minggu.

 

Agar pasar energi kembali seimbang setelah Selat Hormuz dibuka, terdapat tiga tahapan yang harus terjadi.

 

Pertama, produsen harus mengembalikan produksi ke tingkat sebelum perang. Kedua, kapal-kapal harus mengangkut pasokan tersebut ke kilang di luar negeri. Ketiga, kilang harus mengolahnya menjadi bahan bakar siap pakai. Setiap tahap ini membutuhkan waktu tersendiri.

 

Kondisi pasar gas bahkan lebih kompleks. Fasilitas Ras Laffan di Qatar yang memasok hampir seperlima LNG dunia telah ditutup sejak 2 Maret 2026 akibat serangan drone Iran. Dalam sepekan terakhir, serangan misil juga merusak dua dari 14 unit pencairan gas di lokasi tersebut. Kerusakan ini setara dengan 17% kapasitas fasilitas dan 3% pasokan global.

 

Menteri Energi Qatar menyebut proses perbaikan dapat memakan waktu tiga hingga lima tahun, sementara rencana ekspansi juga tertunda. Untuk fasilitas lain yang mengalami kerusakan lebih ringan, perbaikan tetap memerlukan waktu berminggu-minggu sebelum dapat beroperasi kembali.

 

Setelah perbaikan, peralatan harus dibersihkan dari kelembapan agar tidak retak saat didinginkan hingga minus 160 derajat Celsius. Jika proses ini dilakukan terlalu cepat, logam bisa menyusut tidak merata dan sambungan dapat rusak. Proses ini diperkirakan memakan waktu hingga tujuh minggu.

 

Kedua adalah pengiriman. Jika terjadi gencatan senjata, sebagian besar kapten kapal dari sekitar 480 kapal yang tertahan di Teluk kemungkinan akan menunggu beberapa hari tanpa serangan sebelum berlayar kembali.

Sebagian besar kapal tanker sebenarnya sudah penuh dan Selat Hormuz mampu menampung lalu lintas padat, sehingga antrean dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua minggu. Namun, dalam praktiknya, tidak semua kapal akan langsung berani masuk karena risiko keamanan masih tinggi.

 

Iran diketahui telah menyerang fasilitas pelabuhan, termasuk tangki bahan bakar, gudang, dan kapal yang sedang bersandar. Selain itu, puing kapal atau infrastruktur yang rusak mungkin harus disingkirkan terlebih dahulu. Perbaikan pelabuhan sendiri bisa memakan waktu berbulan-bulan.

 

Ketiga adalah asuransi. Sebagian besar perlindungan risiko perang telah dicabut, sementara premi meningkat tajam dari 0,2–0,4% menjadi 1% atau lebih, bahkan hingga 10% untuk rute berisiko tinggi.

 

Walaupun asuransi kembali tersedia, para pelaut dan pemilik kapal tetap belum tentu siap berlayar. Hal ini terlihat dari Laut Merah, di mana jumlah kapal tanker masih jauh di bawah tingkat normal meskipun ancaman telah mereda.

 

Tambahan kendala muncul karena banyak kapal tanker berada di lokasi yang tidak sesuai. Saat konflik pecah, kapal-kapal dialihkan ke Atlantik, dan mereka kemungkinan akan menyelesaikan perjalanan saat ini terlebih dahulu sebelum kembali ke Teluk, yang bisa memakan waktu hingga 90 hari.

 

Dampak Berkepanjangan

Bahkan setelah pasokan minyak kembali tiba di kilang, krisis tidak langsung selesai. Sejumlah kilang di Asia telah menghentikan operasi akibat kekurangan bahan baku, dengan total penurunan kapasitas sekitar 3 juta barel per hari atau 8%.

 

Untuk kembali beroperasi penuh, kilang membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Proses ini mencakup pemeriksaan pipa, pemulihan sistem energi, serta pemanasan unit secara bertahap. Hal serupa juga berlaku pada terminal LNG.

 

Dengan demikian, bahkan jika perang berakhir segera, pasar energi global diperkirakan masih membutuhkan sekitar empat bulan untuk kembali mendekati kondisi normal.

 

Produksi global diperkirakan turun sekitar 3% dari target, sementara setiap bulan penutupan Ras Laffan menyebabkan kehilangan sekitar 7 juta ton LNG. Bahkan jika produksi Qatar kembali maksimal, pasokan tetap diperkirakan 4% di bawah permintaan.

 

Dampaknya signifikan. Cadangan minyak global akan terus menurun, berpotensi memicu kepanikan pasar dan lonjakan harga. Persaingan mendapatkan LNG juga akan meningkat, terutama setelah pasokan terakhir dari Qatar tiba.

Kondisi ini berisiko mengganggu persiapan cadangan energi untuk musim dingin.

 

Saat ini, pasar masih berharap adanya perbaikan situasi. Namun, bahkan jika konflik berakhir, sistem distribusi energi tidak dapat pulih secara cepat, dan dampaknya kemungkinan akan terus terasa hingga musim dingin di belahan bumi utara.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.