Selat Hormuz Memanas! Harga Minyak Dunia Terancam Tembus US$100, BBM & Inflasi Ikut Naik?

Berita Terkini - Diposting pada 01 March 2026 Waktu baca 5 menit

Serangan terkoordinasi yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang kemudian dibalas dengan perlawanan, semakin menegaskan bahwa kawasan Timur Tengah telah memasuki fase perang terbuka setelah ketegangan antarnegara tersebut meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

 

Dari sisi ekonomi global, konflik ini mendorong kenaikan harga minyak dunia. Hal tersebut wajar mengingat Iran merupakan salah satu produsen utama yang menyumbang sekitar 5% dari total produksi minyak mentah global.

 

Tak hanya itu, sekitar 20% distribusi minyak dunia melintasi Selat Hormuz yang berada sangat dekat dengan wilayah Iran. Setiap ancaman terhadap jalur strategis ini langsung meningkatkan premi risiko di pasar energi dan memicu lonjakan harga.

 

Mengutip Bloomberg, Jean-Charles Gordon, Direktur Senior Pelacakan Kapal di Kpler, perusahaan riset energi, menyampaikan bahwa ratusan bahkan ribuan kapal mengalami gangguan navigasi sejak Jumat, saat Israel melancarkan serangan mendadak ke Iran.

 

Ia menjelaskan bahwa koordinat lintang dan bujur yang diterima kapal-kapal tersebut tidak akurat. Data lalu lintas maritim menunjukkan posisi kapal yang menyimpang dan tidak wajar.

 

Menurutnya, perangkat pengacau sinyal tingkat militer mengintervensi sistem penentuan posisi kapal, sehingga sistem navigasi menampilkan lokasi yang keliru. Kondisi ini meningkatkan potensi tabrakan, meskipun kapal umumnya memiliki sistem navigasi cadangan.

 

Bloomberg Economics memproyeksikan konflik ini berpotensi meningkat dan mendorong kenaikan tajam harga minyak mentah. Dalam skenario terburuk, jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, harga minyak bisa melonjak hingga US$108 per barel.

 

Proyeksi tersebut didasarkan pada analisis bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk melakukan serangan balasan, serta para pengambil keputusan di negara itu tetap solid.

 

Sejauh ini, sasaran Iran meliputi pangkalan militer AS di kawasan dan wilayah Israel. Namun, Teheran berpotensi memperluas targetnya ke infrastruktur energi dan jalur pelayaran regional, baik secara langsung maupun melalui sekutu-sekutunya.

 

Dalam laporan Bloomberg Economics (1/3/2026) disebutkan bahwa respons Iran diperkirakan akan terus meningkat. Walaupun tidak mampu menandingi superioritas militer AS, Iran dinilai dapat menimbulkan biaya signifikan dan berupaya menyeret AS ke konflik berkepanjangan di kawasan.

 

Jika harga minyak benar-benar melonjak ke level tersebut, dampaknya bukan sekadar efek psikologis. Situasi ini berpotensi memicu guncangan stagflasi ringan secara global, ditandai dengan inflasi energi, kenaikan biaya logistik, dan meningkatnya ketidakpastian yang menekan investasi karena pelaku pasar cenderung mengadopsi sikap risk-off.

 

Sebagai gambaran, pada 27 Februari harga minyak berada di US$72,48 per barel, naik dari US$70,75 per barel sehari sebelumnya.

 

Dampak Ekonomi

Di pasar keuangan global, lonjakan harga minyak dan ketidakpastian geopolitik umumnya memperkuat dolar AS serta meningkatkan imbal hasil obligasi negara berkembang akibat premi risiko yang lebih tinggi. Dampaknya, arus keluar modal asing dari negara emerging markets sulit dihindari.

 

Indonesia tentu tidak kebal terhadap kondisi tersebut, apalagi saat sektor riil domestik sedang melemah dan struktur eksternal masih bergantung pada arus modal asing. Hal ini tercermin dari Neraca Pembayaran Indonesia yang ditopang surplus transaksi modal dan finansial, sebagaimana dilaporkan Bank Indonesia.

 

Dalam konteks nilai tukar rupiah yang sensitif terhadap faktor eksternal dan fundamental domestik, situasi ini berpotensi memicu depresiasi, khususnya jika harga minyak melonjak tajam disertai volatilitas global.

 

Sebagai contoh, pada 19 Juni tahun lalu terjadi insiden tabrakan kapal tanker di Selat Hormuz yang mendorong harga minyak naik ke US$78,85 per barel. Beberapa hari kemudian, pada 23 Juni, rupiah melemah menjadi Rp16.485/US$ dari Rp16.300/US$ pada 18 Juni, sehari sebelum insiden terjadi.

 

Pergerakan tersebut menunjukkan betapa sensitifnya nilai tukar terhadap sentimen energi dan risiko geopolitik global. Dalam waktu singkat, pasar melakukan penyesuaian harga risiko kawasan, mendorong minyak naik dan melemahkan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

 

Jika skenario ekstrem Bloomberg Economics terealisasi dengan harga minyak mencapai US$108 per barel akibat gangguan serius di Selat Hormuz, dampaknya bagi Indonesia tidak hanya terasa di pasar keuangan, tetapi juga pada neraca eksternal dan fiskal.

 

Meski demikian, tidak semua kemungkinan berujung negatif. Jika gangguan di Selat Hormuz bersifat sementara dan tidak menghentikan arus minyak global, harga mungkin hanya naik di kisaran US$80–90 per barel. Dalam situasi tersebut, tekanan terhadap rupiah cenderung bersifat sentimen jangka pendek, bukan masalah fundamental.

 

Selain itu, Indonesia masih memiliki penopang seperti cadangan devisa yang relatif kuat, bauran kebijakan stabilisasi valas Bank Indonesia, serta potensi kenaikan harga komoditas lain yang dapat membantu mengimbangi tekanan impor migas. Jika harga batu bara dan energi alternatif turut naik, kinerja ekspor dapat menopang keseimbangan eksternal.

Sumber: bloombergtechnoz.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.