Stok Beras Terancam Menipis di Semester II, Bapanas Perkuat Cadangan Pangan Nasional

Berita Terkini - Diposting pada 29 June 2025 Waktu baca 5 menit

ILLUSTRASI

Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyampaikan bahwa sektor perberasan nasional akan menghadapi tantangan yang cukup signifikan pada semester kedua tahun 2025. Untuk mengantisipasi hal ini, Bapanas memprioritaskan peningkatan cadangan beras nasional. Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, menegaskan bahwa pemerintah harus segera memperkuat cadangan beras pemerintah (CBP). Menurutnya, tekanan terhadap ketahanan beras nasional diprediksi meningkat pada paruh kedua tahun ini.

 

“Biasanya, periode paling berat terjadi pada bulan November, Desember hingga Januari. Oleh karena itu, kita semua perlu bersiap dengan CBP seperti yang saat ini tengah dilakukan pemerintah. Ini menunjukkan bahwa langkah kita sudah berada di jalur yang tepat,” ujar Arief dalam pernyataan tertulis yang dikutip pada Minggu, 29 Juni 2025.

 

Arief mengungkapkan bahwa dari Januari hingga saat ini, produksi beras Indonesia mengalami pertumbuhan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Berdasarkan laporan Food Outlook Biannual Report on Global Food Markets yang dirilis oleh Food and Agriculture Organization (FAO) pada bulan Juni, Indonesia menempati peringkat keempat sebagai negara produsen beras terbesar di dunia. Posisi ini menempatkan Indonesia di atas negara-negara ASEAN lainnya seperti Vietnam, Thailand, Myanmar, dan Filipina.

 

Ia menjelaskan bahwa dalam 1–2 bulan ke depan, Indonesia tidak akan mengalami panen raya lagi. Panen besar terakhir terjadi pada bulan Maret dan April dengan hasil produksi setara 10 juta ton beras. Dari jumlah tersebut, sekitar 2,5 hingga 2,6 juta ton telah masuk ke dalam gudang Bulog, sementara sisanya—sekitar tiga per empat—masih berada di penggilingan padi, baik yang dikelola oleh masyarakat maupun petani.

 

Namun demikian, Arief menyatakan bahwa biasanya penurunan produksi beras akan berdampak pada kenaikan harga gabah di tingkat petani. “Inilah saat yang tepat bagi pemerintah untuk menggunakan cadangan beras Bulog yang tersedia,” ujarnya.

 

Per 26 Juni 2025, data dari Panel Harga Pangan Bapanas menunjukkan bahwa rata-rata harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani mencapai Rp6.733 per kilogram. Angka ini berada 3,58% di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram. Jika dibandingkan dengan rata-rata harga GKP sebulan sebelumnya yang sebesar Rp6.621 per kilogram, terdapat kenaikan sebesar 1,69%.

 

Sebagai langkah antisipatif menjelang paruh kedua 2025, pemerintah telah menyiapkan berbagai strategi intervensi untuk menjaga kestabilan pasokan dan harga beras di masyarakat. Salah satu bentuk intervensi tersebut adalah pemberian bantuan pangan berupa beras kepada 18.277.083 keluarga penerima manfaat (KPM). Selain itu, pemerintah juga menjalankan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dengan menyalurkan maksimal 1,318 juta ton beras ke pasar hingga akhir tahun 2025.

Sumber: bisnis.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.