1.800 Produk RI Bebas Tarif Impor 0% ke AS, Peluang Ekspor Makin Terbuka

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 20 February 2026 Waktu baca 5 menit

Foto: Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump resmi menandatangani tarif perdagangan resiprokal kedua negara. Salah satu isinya ialah mengenakan tarif dagang 0% untuk sejumlah produk, Kamis (19/2/2026). (Dok. Media Sosial Sekretariat Kabine

Kalangan dunia usaha menyambut baik kesepakatan pembebasan tarif impor sebesar 0% untuk sekitar 1.819 pos tarif produk Indonesia ke Amerika Serikat (AS). Kebijakan tersebut dinilai memberikan kepastian pasar sekaligus meningkatkan daya saing ekspor nasional, khususnya bagi sektor unggulan yang selama ini sangat bergantung pada pasar AS.

 

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sanny Iskandar, menyampaikan bahwa dunia usaha mengapresiasi sinergi yang erat antara pemerintah dan pelaku usaha hingga tercapainya kesepakatan tersebut.

 

Menurutnya, kolaborasi tersebut memungkinkan terwujudnya ART (Agreement on Reciprocal), di mana pembebasan tarif 0% untuk sekitar 1.819 pos tarif menjadi indikasi bahwa perjanjian ini turut mengakomodasi kepentingan Indonesia.

 

Sanny menjelaskan bahwa dampak kebijakan tarif 0% dapat dilihat dari tiga aspek utama. Pertama, dari sisi kepastian pasar. Pembebasan tarif dinilai mampu mengurangi ketidakpastian perdagangan bagi pelaku usaha yang memiliki eksposur besar ke pasar AS.

 

Ia mencontohkan bahwa sekitar 61% ekspor pakaian dan aksesori pakaian rajutan Indonesia selama ini ditujukan ke AS. Dengan tarif 0%, risiko penurunan permintaan akibat kenaikan biaya dapat diminimalkan, sehingga tingkat utilisasi kapasitas produksi serta perencanaan investasi industri dapat lebih terjaga.

 

Aspek kedua berkaitan dengan peningkatan daya saing relatif Indonesia dibandingkan negara pesaing. Dengan tarif resiprokal sebesar 19%, posisi Indonesia kini sejajar dengan Thailand, Malaysia, Filipina, dan Bangladesh. Sementara itu, China masih menghadapi tarif efektif yang jauh lebih tinggi, yakni 30% atau lebih pada banyak kategori produk.

 

Situasi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas pangsa pasar di AS, terutama pada sektor pakaian dan aksesori rajutan. Saat ini, China masih menguasai sekitar 22% impor AS pada kategori tersebut, disusul Vietnam sebesar 18%, sedangkan Indonesia berada di kisaran 4,9% dari total impor AS.

 

Sanny menilai bahwa kebijakan tarif 0% menjadi faktor pembeda penting bagi produk apparel Indonesia, meskipun tingkat persaingan tetap dipengaruhi oleh faktor domestik seperti efisiensi biaya usaha.

 

Aspek ketiga menyangkut ketahanan rantai pasok. Skema tarif 0% berbasis tarif rate quota untuk produk garmen yang menggunakan kapas asal AS dinilai dapat memperkuat stabilitas pasokan bahan baku industri tekstil nasional.

 

Saat ini, industri tekstil dan garmen Indonesia mengimpor kapas lebih dari US$1,5 miliar per tahun, dengan sekitar US$150 juta atau 10% di antaranya berasal dari AS. Kepastian pasokan bahan baku tersebut dianggap penting untuk menjaga struktur biaya sekaligus meningkatkan daya saing ekspor secara berkelanjutan.

 

Ia juga menegaskan bahwa pembebasan tarif tidak selalu berdampak negatif bagi industri dalam negeri. Untuk komoditas tertentu yang belum dapat dipenuhi dari produksi domestik, impor justru berperan sebagai bahan baku penting bagi industri nasional.

 

Komoditas seperti kapas, kedelai, dan gandum yang belum sepenuhnya dapat diproduksi di dalam negeri berfungsi sebagai input intermediate yang menopang industri nasional. Dalam konteks tersebut, pembebasan tarif justru dapat meningkatkan efisiensi dan menekan biaya produksi di dalam negeri.

 

Dengan adanya kepastian tarif serta akses pasar yang lebih luas, dunia usaha menilai momentum ini perlu dimanfaatkan untuk mendorong peningkatan ekspor sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.