Investor Global Serbu Pasar AS, Rupiah Terancam Melemah Tajam!

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 24 May 2025 Waktu baca 5 menit

illustrasi

Nilai tukar rupiah kemungkinan akan menghadapi tekanan pada perdagangan terakhir pekan ini di pasar spot, seiring dengan meningkatnya minat investor global terhadap aset-aset di pasar Amerika Serikat (AS).

 

Indeks dolar AS ditutup menguat pada perdagangan semalam di New York, menyebabkan nilai tukar rupiah dalam kontrak Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri melemah tipis sebesar 0,08% ke level Rp16.380 per dolar AS. Pagi ini, rupiah NDF bergerak stabil dengan sedikit penguatan ke Rp16.374 per dolar AS.

 

Level tersebut masih lebih lemah dibandingkan dengan penutupan rupiah spot kemarin yang berada di Rp16.330 per dolar AS, mengindikasikan potensi pelemahan masih ada.

 

Di pasar Asia pagi ini, pergerakan mata uang bervariasi. Ringgit Malaysia dan won Korea Selatan menguat, begitu pula yen Jepang, dolar Singapura, dan yuan offshore. Namun, beberapa mata uang lainnya mengalami pelemahan, termasuk dolar Taiwan, baht Thailand, peso Filipina, dan dolar Hong Kong.Bloomberg Technoz

 

Rupiah mungkin mendapatkan dukungan jika aliran masuk modal asing ke pasar saham domestik berlanjut. Dalam sepekan ini, investor asing telah mencatatkan pembelian bersih sebesar US$94,4 juta, atau sekitar Rp1,54 triliun.

 

Kembalinya minat investor di pasar ekuitas AS dapat menular ke investor global di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.Investing.com Indonesia

 

Rupiah juga dapat berharap pada stabilnya minat asing terhadap pasar surat utang negara, seiring dengan melebar kembali selisih imbal hasil antara Surat Utang Negara (SUN) Indonesia dan obligasi pemerintah AS (US Treasury) menjadi 231 basis poin pagi ini, setelah penurunan yield US Treasury kemarin.

 

Pada 21 Mei lalu, saat Bank Indonesia memutuskan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, investor asing membeli SUN senilai US$38 juta, sehingga dalam sepekan ini dana global telah mencatatkan pembelian bersih di aset pendapatan tetap sebesar US$207,3 juta.

 

Analisis Teknikal:

Secara teknikal, rupiah masih berpeluang melanjutkan penguatan, meskipun mulai terbatas oleh sentimen pasar. Level resistance terdekat rupiah berada di Rp16.310 per dolar AS, dengan resistance potensial berikutnya di Rp16.300 per dolar AS setelah menembus garis tren sebelumnya, dan Rp16.200 per dolar AS sebagai level penguatan paling optimis dalam kerangka waktu harian untuk tren perdagangan jangka menengah.

 

Sementara itu, level support terdekat rupiah berada di Rp16.350 per dolar AS. Jika level ini ditembus, maka akan mengkonfirmasi laju support selanjutnya di Rp16.400 per dolar AS sebagai support psikologis, serta Rp16.450 per dolar AS dalam sepekan.

 

Pemulihan Obligasi AS:

Pemulihan pasar obligasi pada Kamis turut didukung oleh data ekonomi. Aktivitas bisnis dan ekspektasi output AS menunjukkan perbaikan seiring meredanya kekhawatiran terkait perdagangan, meskipun tekanan harga masih terus meningkat.Bloomberg Technoz

 

Klaim pengangguran awal menurun ke level terendah dalam empat minggu, menunjukkan pasar tenaga kerja yang masih solid. Namun, penjualan rumah lama justru turun di luar perkiraan.

 

"Data ekonomi 'keras' belum menunjukkan bahwa ekonomi AS sedang tertekan," kata Don Rissmiller dari Strategas, dikutip dari Bloomberg.

 

"Sebagian aktivitas ekonomi tampaknya ditarik ke depan sebelum tarif diberlakukan. Dampaknya akan terasa mulai sekarang, dan sinyal dari pasar obligasi kepada politisi akan menambah tekanan bagi sektor ekonomi yang sensitif terhadap suku bunga seiring negosiasi anggaran berjalan sepanjang musim panas."

 

Komentar Dovish Pejabat The Fed:

Komentar dovish dari pejabat Federal Reserve juga memberikan penguatan pada pasar.

Wakil Ketua Federal Reserve Christopher Waller mengatakan bahwa bank sentral dapat mulai memangkas suku bunga pada paruh kedua 2025, jika tarif perdagangan yang diberlakukan pemerintahan Trump terhadap mitra dagang AS dapat diturunkan ke kisaran 10%.

 

"Jika tarif dapat ditekan ke sekitar 10% dan semuanya disepakati dan selesai sekitar Juli, maka kita berada dalam posisi yang cukup baik untuk paruh kedua tahun ini," ujar Waller dalam wawancara dengan Fox Business pada Kamis.

 

Data Domestik:

Hari ini, investor menunggu rilis data perkembangan uang beredar Indonesia untuk bulan April. Data neraca pembayaran yang mencatat defisit, serta nilai defisit transaksi berjalan yang lebih besar dari ekspektasi yang dirilis kemarin, ternyata tidak memberikan tekanan pada pasar.

Sumber: bloombergtechnoz.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.