Ketidakpastian Global Naik, Ini Dampaknya terhadap Pasar Keuangan Indonesia

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 29 June 2025 Waktu baca 5 menit

ILLUSTRASI

Meningkatnya ketidakpastian global telah mempercepat upaya diversifikasi portofolio global dari dominasi aset-aset asal Amerika Serikat dan Tiongkok. Proses diversifikasi ini menciptakan peluang bagi pasar keuangan di negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk menjadi tujuan investasi alternatif. Namun demikian, tingginya volatilitas dan belum dalamnya pasar domestik menjadi tantangan utama bagi daya tarik Indonesia.

 

Trinh Nguyen, Ekonom Senior untuk Kawasan Asia Emerging di Natixis, menyampaikan bahwa saat ini semakin banyak pihak di dunia menyadari bahwa terlalu tergantung pada satu jenis aset menimbulkan risiko signifikan. “Setiap orang kini paham bahwa terlalu banyak membeli satu aset dapat berbahaya, tetapi tantangannya adalah bagaimana cara mengurangi ketergantungan tersebut dan berapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk itu,” ujarnya dalam sebuah lokakarya National Press Foundation di Singapura yang turut dihadiri oleh Bisnis, belum lama ini.

 

Ia menjelaskan, ketika investor mulai beralih dari aset konvensional seperti surat utang negara Amerika Serikat (US Treasury), mereka akan mencari pilihan lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Namun, proses peralihan ini tidak bisa dilakukan secara agresif, karena tingginya biaya transisi serta terbatasnya kapasitas pasar alternatif, khususnya di negara-negara berkembang. Contohnya adalah pasar obligasi Indonesia yang dinilai belum cukup besar dibandingkan pasar surat utang AS.

 

“Total pasar obligasi Indonesia hanya sekitar US$500 miliar. Jika dibandingkan dengan US Treasury yang bernilai US$30 triliun, ukuran itu sangat kecil. Sehingga jika banyak investor masuk dalam waktu bersamaan, harga bisa melonjak tajam dan risikonya meningkat,” jelasnya.

 

Meski begitu, Trinh menilai Indonesia tetap menarik di tengah tren deglobalisasi dan restrukturisasi rantai pasokan dunia. Saat imbal hasil obligasi Tiongkok berada di bawah 2% dan pasar negara maju cenderung stagnan, kawasan Asia Tenggara menawarkan potensi pertumbuhan lebih tinggi dengan tingkat risiko yang masih bisa diterima oleh investor global.

 

Di sisi lain, Trinh menilai kekhawatiran mengenai potensi krisis keuangan, khususnya terkait pelemahan nilai tukar, tidak berdasar. Ia mencontohkan sentimen negatif terhadap rupiah pada Februari dan Maret 2025, ketika nilai tukar menyentuh level psikologis Rp17.000 per dolar AS. “Saat itu banyak pihak yang membandingkan situasi tersebut dengan krisis Asia 1997, padahal kondisi saat ini sangat berbeda,” terangnya.

 

Ia menambahkan, tren depresiasi ringan juga terlihat di negara lain seperti India. Menurut Trinh, mata uang rupee India secara konsisten melemah sekitar 1,5% per tahun, sejalan dengan strategi bank sentral India yang memang tidak menginginkan mata uangnya terlalu kuat. “Jika kita perhatikan data, depresiasi ini bukan tanda krisis, melainkan bagian dari kebijakan moneter yang terukur,” ujarnya.

 

Trinh juga menekankan bahwa pasar keuangan global memang tengah mengalami transformasi besar, namun prosesnya berjalan perlahan karena investor membutuhkan waktu untuk menyesuaikan portofolio mereka. Dalam jangka pendek, dominasi pasar AS dan Tiongkok akan tetap berlangsung, tetapi ketertarikan terhadap pasar negara berkembang seperti Indonesia akan terus tumbuh, terutama dari investor yang ingin melakukan diversifikasi dan mencari imbal hasil lebih tinggi.

 

“Pasar obligasi Amerika tetap akan memiliki peminatnya, begitu juga dengan pasar Indonesia yang tetap akan diminati. Jadi, meskipun ada kemungkinan perang dagang yang bisa membelah dunia dan mengganggu kestabilan, termasuk faktor ketidakpastian dari figur seperti Trump, gejolak di pasar aset keuangan sejauh ini belum separah yang dikhawatirkan,” tutupnya.

Sumber: bisnis.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.