Proyek Gas Rp 342 Triliun di Indonesia Resmi Jalan, Siap Serap 70.000 Tenaga Kerja Baru

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 29 August 2025 Waktu baca 5 menit

Foto: Inpex mulai melakukan pengerjaan Front-End Engineering Design (FEED) Lapangan Gas Abadi, Blok Masela. Seremoni pengerjaan FEED dilakukan di Jakarta, Kamis (28/08/2025). (CNBC Indonesia/Firda Dwi Muliawati)

Proyek gas raksasa di Lapangan Abadi, Blok Masela, Maluku, secara resmi telah memasuki tahap Front-End Engineering Design (FEED) atau desain rekayasa teknis untuk pembangunan fasilitas kilang darat gas alam cair atau Onshore LNG (OLNG).

 

President dan CEO Inpex Corporation, Takayuki Ueda, mengungkapkan bahwa proyek yang memiliki nilai investasi sekitar US$ 20,94 miliar atau setara Rp 342,56 triliun (mengacu kurs Rp 16.359 per US$) ini diperkirakan dapat memberikan kontribusi sebesar US$ 150 miliar atau Rp 2.543 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia serta menciptakan 70 ribu lapangan kerja selama 30 tahun ke depan.

 

“Secara perkiraan, proyek ini akan menambah sekitar US$ 150 miliar terhadap PDB Indonesia dan menciptakan 70.000 lapangan kerja dalam kurun waktu 30 tahun,” ujar Ueda dalam peresmian tahap FEED Lapangan Gas Abadi, Blok Masela, di Jakarta, Kamis (28/8/2025).

 

Ueda menambahkan, dimulainya tahap FEED merupakan langkah signifikan bagi perusahaan dalam upaya memperkuat ketahanan dan keberlanjutan energi di Indonesia.

 

Selain itu, proyek ini akan menjadi proyek energi pertama di Indonesia yang mengadopsi teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture and Storage (CCS) sejak tahap awal produksi.

 

“CCS akan membantu mendorong dekarbonisasi Indonesia sekaligus memastikan pasokan energi bagi negeri ini,” katanya.

 

Sebagai informasi, Lapangan Abadi di Blok Masela merupakan lapangan gas laut dalam dengan cadangan terbesar di Indonesia. Lokasinya berada sekitar 160 kilometer dari lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura dengan kedalaman laut antara 400–800 meter. Potensi cadangan gas dari Lapangan Abadi ini diperkirakan mencapai 6,97 triliun kaki kubik (TCF).

 

Kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) Masela yang ditandatangani pada 1998 dan diperpanjang hingga 2055 memiliki potensi produksi sebesar 9,5 juta metrik ton per tahun (mtpa) LNG dan 150 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) gas pipa. Selain itu, diperkirakan akan dihasilkan kondensat hingga 35.000 barel per hari (bph).

 

Konsep pengembangan lapangan greenfield yang memiliki kompleksitas tinggi dan risiko besar mencakup pengeboran laut dalam, fasilitas subsea, FPSO (Floating Production Storage and Offloading), serta pabrik LNG darat menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi PHE dan para mitranya untuk mewujudkannya.

 

Blok Masela juga akan menjadi penghasil LNG ramah lingkungan melalui penerapan teknologi CCS guna mendukung program pemerintah dalam menekan emisi karbon serta mendukung keberlanjutan di era transisi energi.

 

Inpex Masela Ltd memegang hak partisipasi (Participating Interest/PI) terbesar di Blok Masela dengan porsi 65%.

 

Sebelumnya, Shell Upstream Overseas Services menguasai 35% saham, namun perusahaan tersebut memutuskan mundur dari proyek gas besar di Maluku ini.

 

Sejak Juli 2023, 35% saham Shell telah diambil alih oleh PT Pertamina Hulu Energi melalui anak usahanya PT Pertamina Hulu Energi Masela (PHE Masela) sebesar 20% dan Petronas sebesar 15%.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.