Rupiah Anjlok Jadi yang Terlemah di Asia, BI Turun Tangan Intervensi Pasar

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 29 August 2025 Waktu baca 5 menit

Bank Indonesia menyatakan bahwa pihak otoritas terus memantau pergerakan pasar secara intensif dan akan mengambil langkah-langkah untuk memastikan nilai tukar rupiah tetap sejalan dengan kondisi fundamentalnya.

 

Pernyataan ini, menurut Bloomberg News pada Jumat pagi (29/8/2025), disampaikan sebagai respons terhadap tekanan yang membuat rupiah melemah sejak awal perdagangan. Nilai tukar rupiah bahkan menembus titik terendah di Rp16.424 per dolar AS, menjadikannya mata uang dengan pelemahan terbesar di kawasan Asia.

 

Direktur Eksekutif Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menyampaikan bahwa BI telah hadir di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing (spot market), obligasi, dan instrumen forward (NDF) baik domestik maupun luar negeri (offshore).

 

Bank sentral juga akan terus mengoptimalkan kebijakan guna memastikan efektivitas suku bunga acuan dan transmisi kebijakan tersebut ke suku bunga pasar, termasuk menjaga kecukupan likuiditas.

 

Tekanan jual tidak hanya dialami rupiah, tetapi juga pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh ke zona merah, terkoreksi 1,2% hingga berada di posisi 7.859.

 

Untuk obligasi negara, imbal hasil tenor pendek mengalami penurunan karena meningkatnya permintaan beli. Yield obligasi 2 tahun turun 5,7 bps menjadi 5,256%. Namun, imbal hasil untuk tenor panjang justru meningkat, dengan SUN tenor 5 tahun naik 4,8 bps, sementara yield tenor acuan 10 tahun bertambah 2,9 bps menjadi 6,338%.

 

Koreksi di pasar mata uang, saham, dan sebagian obligasi ini telah diperkirakan sebelumnya mengingat kondisi domestik yang semakin menimbulkan kekhawatiran.

 

“Situasi terus bergerak ke arah yang sulit diprediksi, sehingga pelaku pasar berpotensi melakukan penjualan panik (fire sale), terutama pada aset berisiko,” tulis tim analis Mega Capital Sekuritas dalam catatan mereka pagi ini.

 

Para analis memproyeksikan rupiah dapat tertekan lebih jauh ke kisaran Rp16.400-Rp16.500 per dolar AS akibat aliran modal asing keluar (capital outflow), bahkan mungkin menuju Rp16.500-Rp16.700 per dolar AS apabila ketegangan sosial terus meningkat.

 

“Tekanan pada rupiah kemungkinan besar juga akan memicu aksi jual pada obligasi negara dengan perkiraan yield tenor 10 tahun berada pada kisaran 6,35%-6,55%. Kami melihat peluang besar intervensi masif dari BI hari ini,” tambah tim analis, termasuk Lionel Priyadi, Muhammad Haikal, dan Nanda Rahmawati.

 

Ketegangan sosial memuncak sejak demonstrasi pecah pada Senin dan berlanjut pada Kamis yang melibatkan buruh serta mahasiswa. Situasi memanas setelah Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online, tewas terlindas kendaraan taktis (rantis) milik Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian RI.

 

Kemarahan masyarakat semakin membesar, ditunjukkan dengan aksi sejumlah pengemudi ojek online yang menuntut keadilan atas kematian rekan mereka ke markas Brimob di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, sebagaimana terlihat dari berbagai rekaman video amatir yang beredar di media sosial.

Sumber: bloombergtechnoz.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.