Selat Hormuz Ditutup! Harga Minyak Dunia Diprediksi Meledak, Bisa Tembus US$120?

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 02 March 2026 Waktu baca 5 menit

Foto: (REUTERS/Nicolas Economou)

Langkah Iran menutup Selat Hormuz diperkirakan akan menimbulkan dampak besar terhadap perekonomian global maupun dalam negeri. Kebijakan tersebut diambil setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dalam beberapa hari terakhir.

 

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, memproyeksikan harga minyak mentah dunia berpotensi menembus kisaran US$100 hingga US$120 per barel. Saat ini saja, harga minyak sudah meningkat sekitar 13,4% dalam sebulan terakhir dan tren penguatan diperkirakan masih akan berlanjut.

 

Bhima menyatakan bahwa gangguan di Selat Hormuz akan memengaruhi sekitar 20% pasokan minyak global. Ia juga menilai situasi semakin rumit akibat meningkatnya risiko keamanan di wilayah konflik, termasuk adanya penolakan asuransi bagi kapal-kapal logistik yang melintasi kawasan tersebut. Kondisi ini berpotensi menghambat distribusi dan menyulitkan proses impor minyak bagi banyak negara, termasuk Indonesia.

 

Sebagai negara net importir minyak, Indonesia diperkirakan menghadapi tekanan fiskal yang besar. Berdasarkan simulasi APBN 2026, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel di atas asumsi APBN dapat menambah beban belanja negara sekitar Rp10,3 triliun.

 

Dengan demikian, apabila harga minyak mencapai US$100 hingga US$120 per barel, belanja negara berpotensi melonjak hingga Rp515 triliun pada 2026. Beban tersebut tidak hanya berasal dari subsidi BBM, tetapi juga kompensasi kepada Pertamina serta subsidi listrik.

 

Bhima menambahkan bahwa terdapat tekanan ganda langsung terhadap APBN, yang diperparah oleh kekhawatiran investor melakukan flight to quality sehingga memicu pelemahan rupiah.

 

Di sisi lain, ia menilai sektor pangan juga rentan terdampak, khususnya komoditas yang sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar dan gangguan rantai impor seperti kedelai, gandum, dan daging. Inflasi impor dari kenaikan harga minyak dan pangan dikhawatirkan menciptakan spiral penurunan daya beli masyarakat.

 

Menurutnya, masyarakat tidak siap menghadapi lonjakan harga BBM maupun inflasi bahan pangan yang bergejolak secara berlebihan. Jika konflik terus berlanjut dan meluas, bukan tidak mungkin banyak negara berkembang terjerumus ke dalam krisis ekonomi.

 

Secara terpisah, praktisi migas Hadi Ismoyo menilai konflik terbaru di Timur Tengah jauh lebih serius dibandingkan ketegangan sebelumnya. Ia menyebut wafatnya Ayatollah Ali Khamenei sebagai titik balik yang memperluas eskalasi, termasuk keputusan menutup Selat Hormuz.

 

Menurutnya, penutupan tersebut berarti sekitar 20% pasokan minyak dunia dan 30% pasokan LNG global akan hilang dari pasar, sehingga harga minyak dan LNG berpotensi melonjak tajam.

 

Ia juga memperkirakan situasi ke depan akan semakin memburuk, mengingat Khamenei bukan hanya pemimpin tertinggi negara yang menentukan kebijakan strategis, tetapi juga tokoh ulama Syiah yang sangat dihormati para pengikutnya.

 

Ia menambahkan bahwa peristiwa ini berpotensi membangkitkan sentimen balas dendam yang mendalam, dianalogikan seperti wafatnya Husayn ibn Ali di Padang Karbala, yang menurutnya terjadi akibat tindakan keras Amerika Serikat dan Israel.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.