Crypto News
Terungkap! Siapa Pemilik Bitcoin Terbesar 2026? Ini Daftar & Fakta Mengejutkannya
/index.php
Edukasi - Diposting pada 05 July 2025 Waktu baca 5 menit
Beli iPhone atau Investasi Saham? Simulasi Ini Ungkap Jawaban Tak Terduga
Di tengah kondisi ekonomi yang makin dinamis, dilema finansial sering menghantui kalangan muda: apakah lebih baik menghabiskan puluhan juta rupiah untuk membeli iPhone terbaru atau mengalokasikannya ke investasi saham? Sejumlah simulasi keuangan justru mengungkap hasil yang cukup mengejutkan.
Simulasi dari Bareksa menunjukkan, jika seseorang membeli iPhone 11 Pro Max (512 GB) seharga Rp 20 juta pada 2019, maka dalam tiga tahun, nilai finansialnya cenderung habis karena depresiasi. Namun, jika dana yang sama dialokasikan ke reksa dana campuran, nilainya bisa bertumbuh signifikan.
"Investasi Rp 20 juta di reksa dana campuran Sucorinvest Flexi Fund tumbuh menjadi Rp 35,26 juta dalam tiga tahun, atau naik 76,29 persen," demikian hasil simulasi Bareksa.
Meski begitu, iPhone tetap menawarkan nilai guna instan seperti kenyamanan teknologi, kepraktisan, hingga menunjang gaya hidup digital sehari-hari.
Pluang pada 2021 juga memaparkan simulasi serupa terkait saham Apple. Jika seseorang membeli iPhone generasi pertama pada 2007, manfaatnya hanya sebatas penggunaan gadget. Namun, jika dana tersebut dialokasikan ke saham Apple pada saat itu, nilainya kini sudah meningkat sekitar 44 kali lipat. Artinya, hasil investasi tersebut kini cukup untuk membeli banyak unit iPhone terbaru.
Dari sisi konsumsi, membeli iPhone memberikan manfaat langsung seperti peningkatan produktivitas, status sosial, dan akses ke ekosistem digital Apple yang terkenal awet dan terintegrasi hingga lebih dari empat tahun.
Sementara itu, investasi saham dan reksa dana menawarkan pertumbuhan nilai modal jangka panjang, melampaui inflasi dan mendukung kestabilan keuangan pribadi.
| Alokasi Dana | Instrumen | Nilai Awal | Nilai Akhir (3 tahun) | Imbal Hasil |
|---|---|---|---|---|
| Beli iPhone 11 Pro Max | Gadget | Rp 20 juta | Rp 0 (terdepresiasi) | - |
| Investasi Reksa Dana | Sucorinvest Flexi Fund | Rp 20 juta | Rp 35,26 juta | +76,3% |
| Investasi Saham Apple (2007) | Saham AAPL | US$500 | US$22.000+ | +4.400% |
Saham: Berisiko tinggi namun menawarkan potensi imbal hasil yang jauh lebih besar jika dikelola dengan baik.
iPhone: Bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga alat kerja, simbol gaya hidup, dan perangkat kreatif.
Konteks Penggunaan: Jika membeli iPhone memang menjadi kebutuhan produktif, maka pembelian itu tetap logis. Namun, bagi yang berfokus pada pertumbuhan aset, investasi menjadi pilihan lebih bijak.
Jika tujuan utamanya adalah menumbuhkan aset keuangan, investasi di saham atau reksa dana memberikan hasil lebih optimal, terbukti dari simulasi yang menunjukkan pertumbuhan hampir dua kali lipat dalam tiga tahun.
Namun, bila iPhone dibutuhkan untuk menunjang pekerjaan atau gaya hidup digital, pembelian gadget ini tetap relevan, asalkan siap dengan konsekuensi depresiasi nilainya.
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.