Saham News
Saham Bank Tertekan Aksi Jual Asing-Saatnya Waspada atau Justru Peluang?
/index.php
Saham News - Diposting pada 02 March 2026 Waktu baca 5 menit
Memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu pergerakan saham-saham emiten minyak dan gas (migas). Sebaliknya, meningkatnya risiko geopolitik menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga terkoreksi. Berdasarkan data pasar sampai sesi I perdagangan hari ini, Senin (2/3/2026), IHSG turun 1,60% atau 131,77 poin ke level 8.103. Sebanyak 682 saham berada di zona merah, 113 saham menguat, dan 163 saham stagnan.
Di tengah pelemahan seluruh indeks sektoral, IDXENERGY menjadi satu-satunya sektor yang mencatat penguatan, yakni naik 1,60% atau 66,78 poin ke posisi 4.247. Saham-saham emiten di subsektor migas kompak bergerak naik. Contohnya, saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) meningkat 5,80% ke Rp1.825, yang mencerminkan kenaikan 35,69% secara year to date (YtD). Saham PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) melonjak 14,20% ke Rp2.010 atau naik 25,62% YtD. Selanjutnya, saham PT Elnusa Tbk. (ELSA) bertambah 7,65% ke Rp915, dengan kenaikan YtD mencapai 83,73%.
Saham emiten terafiliasi Happy Hapsoro, PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA), juga menguat 5,56% ke Rp4.750. Kenaikan pada sesi I ini membantu memperbaiki kinerja RAJA yang sejak awal tahun masih terkoreksi 22,13% YtD.
Sementara itu, saham emiten migas yang bergerak di sektor hilir dan perdagangan BBM, PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA), turut naik 2,70% ke Rp1.330, dengan penguatan 5,56% secara YtD. Untuk emiten jasa angkutan laut komoditas migas, saham PT Longindo Samudramakmur Tbk. (LEAD) meningkat 6,63% ke Rp117 atau naik 14,94% YtD. Kemudian, saham PT Wintermar Offshore Marine Tbk. (WINS) menguat 1,82% ke Rp560 atau bertambah 4,67% sejak awal tahun.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menyatakan bahwa ketegangan yang memuncak di Timur Tengah, ditambah perubahan kebijakan perdagangan Amerika Serikat serta peringatan dari lembaga pemeringkat kredit terkait tekanan fiskal Indonesia, menjadi kombinasi faktor yang memicu sikap hati-hati di pasar keuangan global maupun domestik. Dalam riset mingguannya pada Senin (2/3/2026), ia menjelaskan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran dan potensi gangguan di Selat Hormuz—jalur distribusi sekitar 20–25% minyak dunia—membuat sektor energi dan komoditas menjadi yang paling sensitif untuk dicermati.
Ia menambahkan, apabila risiko gangguan pasokan berlanjut, harga minyak mentah berpeluang naik sehingga menguntungkan emiten batu bara dan migas dari sisi average selling price (ASP). Namun di sisi lain, kondisi tersebut dapat membebani sektor yang padat energi seperti penerbangan dan industri manufaktur berbasis impor bahan bakar. Peningkatan premi risiko juga umumnya mendorong kenaikan harga emas, sehingga sektor tambang emas dan logam mulia berpotensi mendapat keuntungan di tengah ketidakpastian global.
Disclaimer: Informasi ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham. Seluruh keputusan investasi menjadi tanggung jawab pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Sumber: bisnis.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.