China Pamer Teknologi Canggih Tanpa Chip Amerika, Tanda Mandiri Teknologi?

Teknologi Terkini - Diposting pada 01 July 2025 Waktu baca 5 menit

illustrasi

Ketika Donald Trump memanfaatkan kebijakan kontrol ekspor teknologi AS sebagai senjata diplomasi guna merebut pasokan komoditas tanah jarang dari Beijing, China menunjukkan kemampuannya dalam bertahan tanpa menggunakan semikonduktor Amerika yang paling mutakhir.

 

Dalam kunjungan yang diatur pemerintah China awal bulan ini ke provinsi Jiangsu dan Zhejiang—dua daerah terkaya di negara tersebut dan tempat lahirnya perusahaan DeepSeek—otoritas setempat mempertemukan sejumlah eksekutif teknologi dengan jurnalis Bloomberg News dan media lainnya.

 

Pesan utama dari perjalanan itu adalah penegasan ketangguhan: sektor teknologi China tetap bercita-cita menguasai panggung global meski menghadapi berbagai larangan dari Amerika Serikat.

 

Contoh nyata datang dari Magiclab Robotics Technology Co, sebuah perusahaan baru yang berbasis di kota Suzhou dan berdiri kurang dari setahun. Presiden perusahaan tersebut, Wu Changzheng, mengungkap bahwa lebih dari 90% komponen yang digunakan dalam produksi robot humanoid dikembangkan secara mandiri. Sisanya berupa semikonduktor dan unit pengontrol mikro yang dibeli dari pemasok domestik dan internasional. Wu menegaskan mereka tidak menggunakan chip buatan AS.

 

"China tak memiliki banyak kelemahan di industri ini," kata Wu sembari memamerkan robot seukuran manusia yang ditujukan untuk lini produksi pabrik. Ia menepis larangan ekspor perangkat lunak desain semikonduktor oleh pemerintahan Trump, dengan mengatakan bahwa robot-robot mereka hanya membutuhkan "chip standar."

 

Selama lima hari kunjungan ke berbagai perusahaan—mulai dari biofarmasi, robotika humanoid, kecerdasan buatan (AI), hingga otomotif—banyak pelaku bisnis menekankan pentingnya swasembada, sejalan dengan ambisi Presiden Xi Jinping untuk menjadikan China sebagai pusat manufaktur global. Kalangan bisnis lokal pun bersatu mendukung kebijakan Xi di tengah tekanan tarif dan larangan ekspor dari AS.

 

Akses kepada begitu banyak eksekutif sekaligus adalah hal yang langka bagi media asing di China, di mana regulasi media sangat ketat dan para pejabat perusahaan biasanya enggan berbicara terbuka karena khawatir akan konsekuensi politik.

 

Tur teknologi ini menunjukkan upaya Beijing membangun kembali kepercayaan investor global terhadap perekonomian senilai US$19 triliun, yang tengah dilanda krisis properti, tekanan deflasi, dan kebijakan tarif AS tertinggi dalam seratus tahun terakhir.

 

Meskipun pencapaian mengejutkan DeepSeek di bidang AI tahun ini membuktikan bahwa China mampu berinovasi di tengah keterbatasan chip, negara ini masih berjuang mengejar ketertinggalan dari AS yang memiliki akses pada semikonduktor canggih milik Nvidia Corp.

 

Dalam tur media ini, pemerintah China lebih banyak memperkenalkan perusahaan yang tidak terlalu bergantung pada chip tingkat tinggi seperti AISpeech Co, produsen alat bantu audio-video berbasis AI untuk kendaraan. Namun bagi perusahaan yang sedang mengembangkan teknologi seperti autonomous driving dan kecerdasan buatan umum (AGI)—yakni sistem dengan kecerdasan setara manusia—akses ke chip terbaru sangatlah krusial.

 

Delapan eksekutif teknologi yang diwawancarai selama tur ini menghindari pembahasan topik-topik sensitif seperti subsidi negara dan meremehkan dampak pembatasan teknologi oleh AS. Mereka menekankan peningkatan kemandirian nasional, sementara pejabat pemerintah mendengarkan dengan saksama di sela-sela kegiatan.

 

Para eksekutif juga menyoroti keunggulan domestik yang dianggap tahan terhadap gangguan eksternal, termasuk tenaga kerja berlimpah dan rantai pasokan tertutup.

 

Yu Kai, salah satu pendiri sekaligus kepala ilmuwan AISpeech, menyebut bahwa perusahaannya kini memiliki lebih dari 700 staf di pusat riset di Beijing dan Suzhou, setelah memulai dari tim kecil beranggotakan kurang dari 10 orang yang merancang algoritma di Cambridge. Mereka juga membentuk anak perusahaan di Shenzhen, dekat kawasan manufaktur alat pintar, dan menjalankan divisi software untuk kendaraan di wilayah selatan China.

 

Kekhawatiran Beijing terhadap kontrol teknologi AS semakin tampak ketika Presiden Xi memberlakukan pembatasan ekspor tanah jarang beberapa bulan terakhir, sebagai respons terhadap pembatasan terbaru dari Trump. Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick baru-baru ini menyatakan bahwa AS dan China telah menandatangani dokumen yang meresmikan kesepakatan dagang dari pertemuan di Jenewa bulan lalu, termasuk komitmen China untuk mengekspor tanah jarang yang digunakan dalam berbagai industri, mulai dari turbin angin hingga pesawat terbang.

 

Ketahanan ekonomi China menjadi topik utama dalam perjalanan yang dimulai dari Nanjing, kota di provinsi Jiangsu yang menghasilkan tiga kali lebih banyak publikasi ilmiah dibandingkan New York. Jurnalis dibawa dengan dua bus menuju Suzhou dan provinsi tetangga Zhejiang, menggunakan kereta cepat, dengan fokus utama pada teknologi ramah lingkungan.

 

Di China, perdebatan terus berlanjut mengenai pentingnya akses terhadap mesin pembuat chip canggih dan akselerator AI terbaru dari Nvidia. Ren Zhengfei, pendiri Huawei Technologies, menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan China dapat menyiasatinya dengan teknik seperti penumpukan chip untuk mencapai performa setara semikonduktor kelas atas. China juga memblokir banyak layanan AI dari AS, sehingga pemain lokal tidak harus bersaing langsung dengan raksasa teknologi Amerika.

 

China perlu menunjukkan "rasa percaya diri dan kemampuan unjuk gigi" setelah bertahun-tahun menghadapi pembatasan teknologi, kata Julian Mueller-Kaler dari Stimson Center di Washington. Chip kelas atas untuk pusat data AI dapat diganti dengan varian yang lebih rendah, meskipun harus mengorbankan efisiensi energi.

 

"Alasan mengapa China tidak terlalu bereaksi saat pembatasan chip diberlakukan beberapa tahun lalu adalah karena pada tingkat tertentu Beijing justru menginginkannya," ujarnya. "Hal itu mendorong perusahaan-perusahaan China membangun kemampuan mandiri dan mengurangi ketergantungan pada teknologi AS—sebuah tujuan politik jangka panjang yang selama ini terhambat oleh realitas ekonomi."

 

Namun, meskipun banyak yang dipamerkan, hanya sedikit perusahaan yang benar-benar bebas dari dampak memburuknya hubungan dengan AS. Beberapa eksekutif mengungkapkan bahwa mereka merasakan dampak nyata dari kebijakan proteksionis "America First" yang membatasi investasi AS di sektor teknologi tinggi China.

 

"Pengaruhnya terhadap pendanaan sangat besar," ujar Zhang Jinhua, ketua IASO Biotechnology Co, produsen obat kanker yang menyelamatkan nyawa. "Saya bilang ke tim saya untuk berhenti bertanya kapan musim dingin ini berakhir. Kita harus menganggap musim dingin ini sebagai bagian dari empat musim dan belajar menyesuaikan diri dengan ketidakpastian yang berkelanjutan."

Sumber: bloombergtechnoz.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.