Pengguna iPhone Belum Bisa Akses Fitur QRIS Terbaru, Apple Temui Bank Indonesia

Teknologi Terkini - Diposting pada 23 February 2026 Waktu baca 5 menit

Pengguna iPhone di Indonesia hingga kini masih belum dapat memanfaatkan fitur terbaru QRIS yang diluncurkan oleh Bank Indonesia, yakni QRIS Tap, yaitu metode pembayaran tanpa perlu memindai kamera melainkan menggunakan teknologi tap.

 

Bank Indonesia (BI) meminta para pengguna iPhone yang belum bisa mengakses QRIS Tap untuk tetap bersabar. BI menjelaskan bahwa pihak Apple, termasuk perwakilan dari kantor pusatnya, telah mendatangi BI dan menyatakan akan mempelajari lebih lanjut fitur QRIS Tap tersebut.

 

“Pengguna QRIS di iPhone diminta bersabar karena Apple belum membuka akses fitur NFC. Apple Indonesia dan pihak headquarter sudah datang dan akan mendalami fitur QRIS Tap untuk membuka akses NFC,” ujar Deputi Gubernur BI Fillianingsih Hendarta dalam paparan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis (19/2/2026).

 

Sebagaimana diketahui, perangkat iPhone sebenarnya telah dilengkapi dengan fitur Near Field Communication (NFC) yang mendukung sistem pembayaran nirsentuh seperti QRIS Tap. Namun, kebijakan global Apple saat ini belum sepenuhnya memberikan akses NFC kepada aplikasi lokal di Indonesia.

 

Di sisi lain, pemanfaatan QRIS Tap terus mengalami peningkatan. Menurut Fillianingsih, layanan QRIS Tap kini telah digunakan di sektor transportasi, perhotelan, dan restoran. Pada sektor hospitality, jumlah transaksi tercatat mencapai 475 ribu transaksi dengan pertumbuhan bulanan sebesar 7,9% (month to month/mtm).

 

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa volume transaksi pembayaran digital pada Januari 2026 mencapai 4,79 miliar transaksi atau tumbuh 39,65% secara tahunan (year on year/yoy), yang didukung oleh semakin luasnya akseptasi pembayaran digital.

 

“Volume transaksi melalui aplikasi mobile dan internet masing-masing meningkat 10,00% (yoy) dan 23,25% (yoy), termasuk transaksi QRIS yang terus mencatat pertumbuhan tinggi hingga 131,47% (yoy),” ujar Perry dalam paparan hasil RDG BI, Jumat (19/2/2026).

 

Ia menegaskan bahwa capaian positif tersebut ditopang oleh bertambahnya jumlah pengguna serta merchant. Dari sisi infrastruktur, volume transaksi ritel yang diproses melalui BI-FAST mencapai 455 juta transaksi atau tumbuh 34,41% (yoy) dengan nilai transaksi sebesar Rp1.176 triliun pada Januari 2026.

 

Sementara itu, volume transaksi bernilai besar yang diproses melalui BI-RTGS tercatat sebanyak 0,86 juta transaksi atau meningkat 7,60% (yoy), dengan total nilai mencapai Rp19.555 triliun pada Januari 2026. Dalam pengelolaan uang Rupiah, jumlah Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) tumbuh 12,41% (yoy) menjadi Rp1.267 triliun pada Januari 2026.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

TAG :