Bisnis | Ekonomi
Purbaya Yudhi Sadewa Tolak Pinjaman Rp514 Triliun dari IMF & Bank Dunia-Ini Alasan di Baliknya
/index.php
Berita Terkini - Diposting pada 07 January 2026 Waktu baca 5 menit
Pasca Operasi Absolute Resolve, perbincangan utama di kalangan militer tidak hanya berfokus pada bagaimana Amerika Serikat berhasil menangkap Nicolas Maduro, tetapi juga pada alasan mengapa Angkatan Bersenjata Nasional Bolivarian (FANB)—yang memiliki lebih dari 150.000 personel—tidak mampu memberikan perlawanan berarti selama serangan berdurasi sekitar 30 menit pada 3 Januari 2026.
Berdasarkan laporan intelijen dan analisis taktis, absennya respons militer Venezuela disebut sebagai hasil dari kombinasi fatal antara dominasi teknologi dan runtuhnya struktur komando internal. Terdapat empat faktor utama yang menjelaskan mengapa militer Venezuela tidak melawan saat serangan AS berlangsung.
Pertama, terjadinya kelumpuhan elektronik secara menyeluruh. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa kegagalan respons militer dipicu oleh serangan perang elektronik pendahuluan berskala besar. Pesawat EA-18G Growler milik Angkatan Laut AS mengoperasikan pod “Next Generation Jammer” yang secara efektif melumpuhkan sistem pertahanan udara S-300VM buatan Rusia milik Venezuela. Antena komunikasi utama, termasuk fasilitas di Cerro El Volcán, dinonaktifkan hanya dalam hitungan menit, menciptakan kondisi “kabut perang” yang membuat para komandan wilayah kehilangan akses perintah dan informasi dari pusat pemerintahan.
Kedua, terjadinya pembelotan di internal militer. Meski selama ini menunjukkan kesetiaan secara terbuka, FANB dinilai tidak siap menghadapi konflik berskala besar dan setara. Prajurit tingkat bawah, yang hanya menerima gaji sekitar USD100 per bulan, mengalami tekanan moral berat. Data intelijen menunjukkan lonjakan pembelotan setelah ledakan awal menghantam Fuerte Tiuna dan Pangkalan Udara La Carlota. Penangkapan Maduro beserta lingkaran terdekatnya pada fase awal operasi membuat rantai komando terputus, sehingga perwira lapangan enggan mengambil risiko melakukan serangan balasan tanpa arahan yang jelas.
Ketiga, dugaan negosiasi rahasia para jenderal dengan AS. Sejumlah sumber oposisi, termasuk laporan yang dikutip media internasional, mengindikasikan bahwa sikap diam militer bukan semata kebetulan. Terdapat dugaan belum terkonfirmasi bahwa sejumlah jenderal senior telah melakukan komunikasi tertutup dengan intelijen AS. Dengan memilih untuk tidak melakukan perlawanan, para komandan ini diduga berupaya mengamankan kekebalan hukum atau posisi dalam pemerintahan transisi. Dalam banyak kasus intervensi modern, unit militer cenderung menunggu kejelasan pemenang sebelum bertindak, dan kecepatan operasi pasukan khusus AS membuat hasil akhir segera terlihat.
Keempat, kesenjangan teknologi yang sangat mencolok. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa seluruh kemampuan militer Venezuela telah dilumpuhkan. Dalam operasi yang disebut menyerupai “pertunjukan televisi”, pasukan AS mengerahkan teknologi siluman yang tidak terdeteksi oleh sistem pertahanan Venezuela. Kombinasi pasukan khusus dengan perlengkapan penglihatan malam dan termal, serta kondisi pemadaman listrik di berbagai kota, memberi AS keunggulan absolut dalam pertempuran malam hari.
Sumber: sindonews.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.