Crypto News
Terungkap! Siapa Pemilik Bitcoin Terbesar 2026? Ini Daftar & Fakta Mengejutkannya
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 28 August 2025 Waktu baca 5 menit
Bayangkan sebuah dunia di mana negara-negara besar non-Barat—seperti Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, serta mitra mereka—secara bertahap mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat (AS). Gagasan pembentukan mata uang bersama BRICS kini muncul sebagai strategi utama dalam upaya de-dolarisasi.
Jika diterapkan, langkah ini berpotensi mengguncang keseimbangan sistem moneter global, melemahkan pengaruh ekonomi AS, sekaligus mengubah pola perdagangan dan investasi internasional.
Berikut berbagai dampak signifikan yang mungkin timbul dari kehadiran mata uang BRICS terhadap posisi dolar AS.
BRICS berupaya mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan antarnegara anggota sebagai alternatif terhadap dolar.
Mata uang baru—yang dirancang berbasis gabungan mata uang anggota dan cadangan emas—diharapkan mampu memperkuat kemandirian finansial sekaligus mengurangi volatilitas dolar.
Langkah ini bukan sekadar wacana; Rusia dan China telah meningkatkan perdagangan dengan mata uang domestik, bahkan Rusia menyebutkan bahwa sekitar 90% transaksi BRICS kini dilakukan tanpa dolar.
Faktor geopolitik dan sanksi finansial AS membuat inisiatif ini semakin mendesak.
Akibatnya, permintaan terhadap dolar di pasar internasional berpotensi menurun. Jika bank-bank sentral global mulai menyimpan mata uang BRICS sebagai cadangan, tekanan pada posisi dolar sebagai mata uang utama dunia akan semakin kuat.
Laporan Atlantic Council menunjukkan bahwa dolar masih mendominasi sekitar 88% transaksi valuta asing dan 59% cadangan internasional, namun tren de-dolarisasi terus berkembang.
Dolar selama ini menjadi alat penting bagi AS dalam menjalankan kebijakan geopolitiknya melalui sanksi finansial. Namun, kehadiran sistem pembayaran alternatif—seperti BRICS Pay—dan mata uang bersama dapat secara signifikan melemahkan efektivitas instrumen tersebut.
BRICS Pay dirancang sebagai jaringan pembayaran independen yang memungkinkan transaksi lintas negara dengan mata uang lokal tanpa bergantung pada sistem SWIFT yang dikendalikan Barat.
Dengan adanya mata uang tunggal yang terintegrasi dalam jaringan ini, pemblokiran finansial oleh AS akan jauh lebih sulit dilakukan.
Hal ini membuka ruang bagi negara-negara yang sebelumnya rentan terhadap tekanan ekonomi untuk tetap aktif dalam perdagangan internasional tanpa menggunakan dolar.
Turunnya penggunaan dolar di pasar global dapat mengurangi permintaan atas mata uang ini. Jika penurunan ini signifikan—misalnya karena banyak negara meninggalkan dolar—nilai dolar dapat merosot.
Dampaknya, biaya impor di AS akan meningkat karena perusahaan dan konsumen harus membayar dengan dolar yang nilainya melemah.
Beberapa analis memperingatkan bahwa kembalinya dolar ke pasar domestik setelah periode dominasi panjang dapat memicu lonjakan inflasi, penurunan aset, dan kenaikan suku bunga.
Kondisi ini akan langsung membebani masyarakat AS melalui kenaikan harga barang, meningkatnya biaya hidup, dan tantangan lebih besar bagi kebijakan moneter The Federal Reserve.
Dengan hadirnya mata uang BRICS, hubungan ekonomi antarnegara anggota dapat semakin erat melalui sistem pembayaran bersama dan negosiasi perdagangan dalam mata uang alternatif.
Langkah ini diperkirakan dapat meningkatkan volume perdagangan intra-BRICS dan mengurangi ketergantungan pada dolar dalam transaksi global.
Selain itu, kehadiran BRICS Pay dan BRICS Bridge (platform berbasis blockchain) akan memfasilitasi transaksi lintas negara tanpa konversi ke dolar, sehingga memangkas biaya dan mempercepat arus perdagangan.
Pada akhirnya, peta ekonomi dunia dapat berubah menjadi lebih multipolar, di mana blok-blok regional bertransaksi dengan mata uang mereka sendiri.
Menyadari ancaman ini, AS mulai mengambil langkah antisipatif, termasuk rencana tarif hingga 50% bagi negara-negara yang terlalu dekat dengan BRICS, serta tambahan bea masuk bagi mereka yang mendukung kebijakan yang dianggap "anti-Amerika".
Langkah proteksionis ini mencerminkan kekhawatiran Washington akan berkurangnya pengaruh dolar. Kehadiran mata uang BRICS dapat menghilangkan leverage ekonomi yang selama ini menjadi senjata utama AS, sehingga Washington harus memperkuat perlindungan melalui kebijakan perdagangan.
Inisiatif BRICS memperkuat tren global menuju sistem moneter yang lebih berimbang dan multipolar.
Negara-negara di kawasan Global South kini semakin aktif mencari alternatif selain dolar—baik melalui penggunaan mata uang lokal, pengembangan mekanisme pembayaran regional, maupun peningkatan cadangan emas.
Dominasi satu mata uang dinilai semakin berisiko karena dapat digunakan sebagai alat tekanan politik.
Jika keberhasilan mata uang BRICS terwujud, hal ini dapat menjadi inspirasi bagi blok-blok ekonomi lain seperti ASEAN, Afrika, dan Amerika Latin untuk melakukan hal serupa.
Meski ambisius, pembentukan mata uang tunggal bukan tanpa hambatan. Perbedaan skala ekonomi—mulai dari China sebagai raksasa hingga Afrika Selatan sebagai negara kecil—menjadi tantangan dalam merumuskan kebijakan moneter bersama.
Selain itu, risiko dominasi China juga dapat menimbulkan ketidakpercayaan di antara anggota lain.
Belum adanya kesepakatan mengenai jadwal maupun metodologi peluncuran mata uang ini juga membuat sebagian pengamat skeptis bahwa proyek tersebut dapat terealisasi dalam waktu dekat.
Selain membahas mata uang baru, BRICS juga sedang membangun ekosistem keuangan yang lebih mandiri. Salah satunya melalui Contingent Reserve Arrangement (CRA) yang berfungsi sebagai penyedia likuiditas dan jaring pengaman fiskal antaranggota.
Mereka juga mengembangkan sistem alternatif SWIFT serta infrastruktur blockchain BRICS Bridge yang memungkinkan interoperabilitas transaksi internasional tanpa harus bergantung pada jaringan keuangan Barat.
Secara keseluruhan, dampak mata uang BRICS terhadap dolar AS bersifat nyata dan berlapis: mulai dari melemahnya status dolar sebagai cadangan global, turunnya efektivitas sanksi finansial, hingga potensi guncangan ekonomi domestik di AS.
Namun, keberhasilan inisiatif ini bergantung pada kemampuan BRICS membangun kepercayaan internal, memperkuat infrastruktur keuangan, dan memastikan penerimaan luas baik di dalam maupun di luar blok.
Dunia tampaknya bergerak menuju sistem moneter multipolar yang lebih inklusif, meski proses transisinya penuh risiko, ketidakpastian, dan ketegangan geopolitik.
Sumber: sindonews.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.