Harga Minyak Dunia Tembus US$100 per Barel! Pasar Energi Global Bergejolak

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 09 March 2026 Waktu baca 5 menit

Harga minyak mentah global melonjak sangat tinggi hingga hampir mencapai US$110 per barel pada perdagangan hari Minggu waktu setempat. Kenaikan drastis ini dipicu oleh masih tertutupnya jalur pengiriman minyak di Selat Hormuz akibat konflik antara Iran dan Israel yang juga melibatkan Amerika Serikat.

 

Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) melonjak sebesar 20,75% hingga mencapai US$109,75 per barel. Minyak mentah asal Amerika Serikat tersebut bahkan mencatat kenaikan mingguan sebesar 35%. Peningkatan ini menjadi yang tertinggi dalam perdagangan kontrak berjangka sejak pertama kali dicatat pada tahun 1983.

 

Di sisi lain, harga minyak Brent turut mengalami kenaikan sebesar 18,2% hingga berada di level US$109,48 per barel. Sebagai informasi, terakhir kali harga minyak melampaui US$100 per barel terjadi pada awal invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022.

 

Presiden Amerika Serikat Donald Trump segera memberikan tanggapan melalui akun Truth Social miliknya tidak lama setelah harga minyak melewati angka US$100. Ia menyatakan bahwa kenaikan harga minyak tersebut merupakan konsekuensi yang harus dibayar untuk menghilangkan ancaman nuklir dari Iran.

 

"Hanya orang bodoh yang berpikir sebaliknya!" tulis Trump, sebagaimana dikutip dari CNBC International pada Senin (9/3/2026).

 

Selain itu, sejumlah negara anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) saat ini berada dalam kondisi darurat. Produksi minyak di tiga ladang utama di wilayah selatan Irak turun hingga 70%. Dari kapasitas produksi normal sebesar 4,3 juta barel per hari, kini hanya tersisa sekitar 1,3 juta barel per hari.

 

Di sisi lain, Uni Emirat Arab (UEA) mulai mengurangi produksi minyak karena fasilitas penyimpanan mereka telah penuh. Kuwait yang merupakan produsen minyak terbesar kelima di OPEC juga mulai melakukan pemangkasan produksi secara signifikan sebagai langkah pencegahan terhadap potensi ancaman Iran di jalur laut.

 

Selat Hormuz kini menjadi jalur pelayaran yang dihindari oleh banyak pihak. Padahal, jalur tersebut biasanya melayani sekitar 20% kebutuhan konsumsi minyak dunia. Para pemilik kapal tanker enggan melintas di wilayah tersebut karena khawatir menjadi target serangan dari Iran.

 

Akibat situasi ini, persediaan minyak mulai menumpuk karena tidak ada kapal yang berani mengambil muatan. Negara-negara Arab di kawasan Teluk akhirnya terpaksa menurunkan produksi minyak mereka karena keterbatasan kapasitas penyimpanan.

 

Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, menyampaikan bahwa situasi tersebut diyakini akan kembali normal setelah Amerika Serikat berhasil menghancurkan kemampuan Iran untuk mengancam kapal tanker minyak.

 

“Dalam waktu dekat Anda akan melihat kembali beroperasinya lalu lintas kapal secara normal melalui Selat Hormuz. Saat ini situasinya memang belum sepenuhnya stabil dan masih memerlukan waktu untuk pemulihan. Namun dalam skenario terburuk sekalipun, kondisi ini diperkirakan hanya berlangsung selama beberapa minggu, bukan berbulan-bulan,” ujar Wright dalam wawancara dengan CNN.

Sumber: detik.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.