Rupiah Tembus Rp17.000 & IHSG Terpukul, Analis Prediksi Konflik Bisa Berlangsung 6 Bulan

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 09 March 2026 Waktu baca 5 menit

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menembus angka Rp17.000 per dolar AS dalam perdagangan pada Senin (9/3/2026). Pada waktu yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga menunjukkan kinerja lemah dengan penurunan hampir mencapai 5 persen.

 

Pelemahan tajam yang terjadi pada rupiah dan IHSG dipicu oleh dampak konflik di Timur Tengah yang semakin memanas sehingga menimbulkan ketidakstabilan di pasar keuangan.

 

“IHSG sudah turun hingga 5 persen, kemudian rupiah berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS. Ada beberapa faktor yang memengaruhi kondisi ini, baik dari faktor eksternal maupun faktor internal,” ujar Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangan suara kepada wartawan, Senin (9/4/2026).

 

Ibrahim menjelaskan bahwa dari sisi eksternal, ketegangan perang di Timur Tengah masih terus berlanjut. Iran telah memiliki pemimpin baru, yaitu Mojtaba Khamenei, yang menggantikan Ayatollah Khomeini yang wafat akibat serangan Israel dan Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Menurutnya, karakter kepemimpinan Mojtaba dinilai mirip dengan Ayatollah sebelumnya sehingga konflik atau perlawanan diperkirakan masih akan berlanjut.

 

“Sudah terjadi pergantian kepemimpinan di Iran dan kita melihat bahwa pemimpin barunya juga merupakan sosok yang berhaluan fundamentalis Islam. Karena itu, kemungkinan besar dalam enam bulan mendatang konflik di Timur Tengah masih akan terus berlangsung,” ujarnya.

 

Bahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan menghancurkan atau mengganti rezim yang berkuasa di Iran. Situasi tersebut membuat ketegangan di Timur Tengah meningkat tajam, terutama setelah penutupan Selat Hormuz. Beberapa negara produsen minyak seperti Uni Emirat Arab, Irak, dan Arab Saudi juga telah mengurangi produksinya akibat penutupan jalur tersebut.

 

“Pengurangan produksi tersebut menyebabkan harga minyak mentah dunia, baik crude oil maupun brent oil, melonjak tinggi. Saat ini harganya sudah mencapai sekitar 117 dolar AS per barel. Banyak analis memperkirakan bahwa harga minyak mentah dapat mencapai 200 dolar AS per barel jika dalam satu bulan ke depan belum ada penyelesaian atas krisis di Timur Tengah,” jelasnya.

 

Di sisi lain, Ibrahim menilai bahwa Amerika Serikat dan Israel akan menghadapi kesulitan jika mencoba menguasai wilayah Iran melalui perang darat, karena wilayah Iran didominasi oleh pegunungan. Ia mengingatkan bahwa dalam sejarah beberapa konflik darat sebelumnya, seperti Perang Korea, Amerika Serikat bersama sekutu Korea Selatan tidak mampu meraih kemenangan meskipun akhirnya terjadi gencatan senjata ketika China, sekutu Korea Utara, ikut terlibat.

 

Hal yang sama juga terjadi dalam Perang Vietnam. Oleh karena itu, Trump perlu mempertimbangkan dengan cermat rencana operasi militer darat. Prediksi mengenai kemungkinan kegagalan perang darat tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak, termasuk harga gas alam, serta berdampak pada berbagai komoditas turunannya.

 

“Kenaikan harga minyak ini berpotensi memicu krisis ekonomi. Kita pernah mengalaminya pada tahun 2008 ketika setelah konflik Amerika Serikat bersama sekutunya dengan Irak terjadi krisis ekonomi global yang cukup besar,” ujarnya.

 

Sentimen Internal

Ibrahim menambahkan bahwa faktor internal yang menyebabkan pelemahan rupiah sekaligus penurunan IHSG juga berkaitan dengan dampak ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ia memperkirakan bahwa pemerintah akan menghadapi potensi defisit anggaran akibat melonjaknya harga minyak dunia.

 

“Pemerintah telah menyampaikan bahwa dalam 20 hari ke depan harga BBM masih relatif stabil. Namun jika harga minyak berada di atas 92 dolar AS per barel, itu sebenarnya sudah menjadi batas normal tertinggi yang masih bisa diantisipasi pemerintah. Saat ini kita melihat harga crude oil dan brent oil sudah di atas 100 dolar AS, bahkan mencapai sekitar 117 dolar AS per barel. Artinya ada kemungkinan defisit anggaran pemerintah bisa mencapai sekitar 3,6 persen,” jelasnya.

 

Ibrahim menyebutkan bahwa informasi tersebut juga telah disampaikan oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa. Hal itu berarti pemerintah kemungkinan akan melakukan penyesuaian anggaran, termasuk kemungkinan mengurangi alokasi dana untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

 

“Kondisi inilah yang menimbulkan ketegangan tersendiri dan menambah situasi yang tidak menentu di dalam negeri sebagai dampak dari faktor eksternal,” ujarnya.

 

Selain itu, terdapat sentimen internal lain yang memengaruhi pasar, yaitu dorongan dari sejumlah ulama agar Indonesia keluar dari Board of Peace (BoP) yang digagas oleh Trump dalam pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dengan para ulama. Dari hasil pertemuan tersebut, ada kemungkinan Indonesia keluar dari BoP apabila kebijakan organisasi tersebut tidak sejalan dengan sikap pemerintah Indonesia terkait isu Palestina.

 

“Kondisi yang tidak menentu ini menyebabkan pada saat pembukaan pasar tadi pukul 06.00 indeks dolar mengalami gap up yang cukup besar. Selanjutnya hampir semua harga mengalami pelemahan, termasuk rupiah yang mencapai Rp17.000 per dolar AS. IHSG juga sempat turun hampir 5 persen, meskipun saat ini pelemahannya sedikit berkurang menjadi sekitar 3,57 persen di level 7.315,” tegasnya.

Sumber: republika.co.id

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.