Iran Ancam Hadang Ekspor Minyak Timur Tengah ke AS dan Israel, Pasar Energi Global Waspada

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 11 March 2026 Waktu baca 5 menit

Foto: Pemandangan umum kebakaran di kilang minyak di Birjand, Iran, 10 Desember 2023. (via REUTERS/WANA NEWS AGENCY)

Iran menegaskan tidak akan mengizinkan Amerika Serikat, Israel, maupun sekutu mereka mengekspor “setetes pun minyak” dari wilayah Timur Tengah selama konflik masih berlangsung. Pernyataan ini disampaikan oleh juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ali Mohammad Naini, pada hari Selasa.

 

“Di tengah serangan yang terus dilakukan oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap rakyat Iran serta infrastruktur sipil kami, angkatan bersenjata Iran tidak akan mengizinkan satu tetes pun minyak diekspor dari kawasan ini kepada pihak yang bermusuhan maupun mitra mereka sampai ada pemberitahuan lebih lanjut,” ujar Naini sebagaimana dikutip oleh kantor berita Tasnim.

 

Ia juga menyatakan bahwa setiap upaya dari pihak lawan untuk menekan atau mengatur harga minyak dan gas hanya akan memberikan dampak sementara dan pada akhirnya tidak akan berhasil.

 

Menurut Naini, saat ini Teheran memegang kendali atas jalannya konflik yang sedang terjadi.

Ia juga menegaskan bahwa Iranlah yang akan menentukan kapan konflik tersebut akan berakhir.

 

Selain itu, Naini membantah pernyataan sejumlah pejabat pemerintah Amerika Serikat yang menyebutkan bahwa kemampuan Iran dalam meluncurkan rudal telah melemah.

 

Sebaliknya, ia menyatakan bahwa Iran justru akan meningkatkan kekuatan serangan rudalnya.

Mulai saat ini, Iran disebut akan meluncurkan rudal yang lebih kuat dengan hulu ledak yang memiliki bobot setidaknya satu ton.

 

Pernyataan tegas tersebut muncul setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari, termasuk di ibu kota Teheran.

 

Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan pada berbagai fasilitas serta menimbulkan korban dari kalangan sipil.

Sebagai balasan, Iran kemudian meluncurkan serangan terhadap wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah.

 

Pada awalnya, Washington dan Tel Aviv menyatakan bahwa serangan yang mereka sebut sebagai tindakan “pencegahan” tersebut diperlukan untuk menghadapi ancaman yang mereka nilai berasal dari program nuklir Iran.

 

Namun dalam perkembangan berikutnya, kedua negara juga menyampaikan keinginan mereka untuk melihat terjadinya perubahan kekuasaan di Iran.

 

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan gugur pada hari pertama operasi militer tersebut.

Pemerintah Republik Islam Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Perkembangan konflik tersebut juga memicu respons dari sejumlah negara lainnya.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa pembunuhan terhadap Khamenei merupakan pelanggaran yang sinis terhadap hukum internasional.

 

Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengutuk operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel serta mendesak agar segera dilakukan deeskalasi dan penghentian permusuhan.

Sumber: antaranews.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.