Xi Jinping Bangun Proyek Raksasa Rp 2.700 T: Harapan Baru Ekonomi China?

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 22 July 2025 Waktu baca 5 menit

China tengah membangun sebuah proyek infrastruktur raksasa senilai US$ 170 miliar atau sekitar Rp 2.772 triliun. Yang dimaksud "raksasa" di sini bukan makhluk besar, melainkan bendungan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) terbesar di dunia yang berlokasi di bagian timur Dataran Tinggi Tibet.

 

Dikutip dari Reuters pada Selasa (22 Juli 2025), kantor berita Xinhua melaporkan bahwa proyek ini merupakan inisiatif paling ambisius yang dilakukan China sejak pembangunan Bendungan Tiga Ngarai di Sungai Yangtse. Di dalam negeri, proyek ini mendapat respons positif sebagai bentuk stimulus ekonomi, yang tercermin dari penguatan pasar saham China dan ketidakseimbangan imbal hasil obligasi pada hari Senin.

 

Pembangunan akan dilakukan di bagian hilir Sungai Yarlung Zangbo, di mana akan dibangun lima bendungan bertingkat yang mampu memproduksi listrik hingga 300 miliar kilowatt-jam per tahun—jumlah ini setara dengan konsumsi listrik Inggris sepanjang tahun 2024.

 

Sebagaimana disebutkan dalam laporan tersebut, “Sebagian aliran sungai memiliki arus deras yang jatuh dari ketinggian 2.000 meter dalam bentang sejauh 50 kilometer, menawarkan potensi energi air yang luar biasa besar.”

 

Proyek ini direncanakan mulai beroperasi sekitar tahun 2030-an.

Perdana Menteri China, Li Qiang, menyebut bendungan ini sebagai “proyek abad ini”. Ia menekankan pentingnya memperhatikan aspek pelestarian lingkungan dalam proses pembangunannya agar tidak menimbulkan kerusakan ekologis.

 

Pengawasan proyek berada di bawah China Yajiang Group, sebuah badan milik negara yang baru dibentuk. Proyek ini diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi, terlebih saat ini ekonomi China menunjukkan gejala pelemahan di beberapa sektor.

 

Dalam sebuah catatan, Citi menyatakan bahwa “Dengan estimasi waktu pembangunan selama satu dekade, peningkatan investasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dapat mencapai 120 miliar yuan (sekitar Rp 272 triliun) setiap tahunnya.”

 

“Malah, manfaat ekonomi sebenarnya bisa lebih besar dari itu,” lanjut catatan tersebut.

Namun demikian, belum ada data resmi mengenai berapa banyak lapangan kerja yang akan tercipta. Sebagai perbandingan, pembangunan Bendungan Tiga Ngarai yang berlangsung hampir 20 tahun sebelumnya berhasil menciptakan hampir satu juta pekerjaan di China.

 

Di sisi lain, India dan Bangladesh menyatakan kekhawatiran mereka terhadap dampak dari pembangunan tersebut terhadap jutaan penduduk di hilir sungai. Sungai Yarlung Zangbo yang menjadi lokasi proyek mengalir ke kedua negara tersebut dan lebih dikenal sebagai Sungai Brahmaputra.

 

Pema Khandu, Kepala Menteri negara bagian Arunachal Pradesh, India, mengatakan bahwa lokasi bendungan tersebut hanya berjarak sekitar 50 kilometer dari perbatasan India. Ia mengungkapkan bahwa pembangunan itu berpotensi mengeringkan hingga 80% aliran sungai yang mengalir ke wilayahnya serta menyebabkan banjir di daerah hilir Arunachal maupun di negara bagian tetangga, Assam.

 

Sejumlah LSM turut menyuarakan peringatan mengenai ancaman terhadap ekosistem yang kaya dan sangat beragam di kawasan dataran tinggi tersebut. Mereka mengklaim bahwa pembangunan bendungan ini bisa menyebabkan kerusakan permanen pada lingkungan Dataran Tinggi Tibet.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.