Bisnis | Ekonomi
Purbaya Yudhi Sadewa Tolak Pinjaman Rp514 Triliun dari IMF & Bank Dunia-Ini Alasan di Baliknya
/index.php
Edukasi - Diposting pada 23 January 2026 Waktu baca 5 menit
Penulis Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, kembali melontarkan pandangan kontroversial mengenai kondisi ekonomi global. Ia menyatakan bahwa momen terbaik untuk membangun kekayaan semakin dekat, namun di saat yang sama mengingatkan bahwa pasar properti tengah mengalami kejatuhan dan periode sulit sedang menanti.
Mengutip Yahoo Finance, Kiyosaki sebelumnya menulis di platform X pada Juli 2024 bahwa peluang besar untuk menjadi kaya akan segera muncul. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa ancaman krisis belum berakhir karena runtuhnya pasar bukanlah peristiwa instan, melainkan proses panjang yang berlangsung selama puluhan tahun.
Hingga kini, pasar keuangan global masih tampak cukup tangguh meski diwarnai volatilitas. Indeks acuan S&P 500 tercatat menguat lebih dari 17% secara year-to-date hingga akhir Desember, mencerminkan pemulihan setelah gejolak tajam di awal tahun.
Namun menurut Kiyosaki, optimisme tersebut berpotensi menyesatkan karena krisis besar diyakininya masih terus berkembang. Dalam unggahan terbarunya, ia menekankan bahwa kejatuhan pasar merupakan hasil akumulasi jangka panjang, bukan kejadian mendadak.
Dalam menghadapi kondisi ini, Kiyosaki kembali membagikan nasihat dari sosok yang ia sebut sebagai Rich Dad, yakni pentingnya membangun penghasilan pasif atau kemampuan “menghasilkan uang saat tidur” sebagai fondasi menuju kekayaan.
Ia juga mendorong masyarakat untuk terus meningkatkan literasi keuangan dengan belajar secara konsisten, mengikuti seminar, serta menyerap pelajaran dari individu yang telah meraih kesuksesan.
Peringatan mengenai “masa-masa buruk” tersebut didasarkan pada kajian sejarah sistem moneter. Kiyosaki menilai akar krisis besar saat ini bermula sejak 1913, ketika Federal Reserve mengambil alih kendali sistem moneter Amerika Serikat.
Menurutnya, kejatuhan pasar berskala besar akan paling berdampak buruk bagi investor ritel. Ia mencontohkan krisis perumahan dan kredit global pada akhir 2000-an yang menggerus sekitar US$16 triliun kekayaan bersih rumah tangga AS.
Kasus lain terjadi pada aksi jual pasar saham tahun 2022 yang menyebabkan kerugian sekitar US$3 triliun bagi peserta dana pensiun 401(k) dan IRA. Meski tidak sebesar prediksi “krisis terburuk sepanjang sejarah”, angka tersebut mencerminkan besarnya risiko gejolak pasar.
Di balik nada pesimistisnya, Kiyosaki menilai tetap ada pihak yang akan diuntungkan. Ia meyakini investor yang memahami sejarah moneter berpotensi meraih keuntungan dari lonjakan harga emas, perak, serta aset kripto seperti Bitcoin dan Ethereum jika sistem fiat melemah.
Keyakinan tersebut didorong oleh ketidakpercayaannya terhadap mata uang fiat AS. Ia menyebut Amerika Serikat sebagai negara dengan beban utang terbesar sepanjang sejarah, yang secara perlahan mengikis kepercayaan terhadap uang fiat.
Kiyosaki bahkan menyampaikan proyeksi harga yang agresif. Ia memperkirakan harga perak dapat menembus US$100 per ons pada 2026 dan berpotensi naik hingga US$200 per ons.
Untuk emas, prediksinya lebih ekstrem lagi. Ia mengklaim harga emas berpeluang mencapai US$27.000 per ons, mengacu pada pandangan ekonom Jim Rickards serta kepemilikannya atas dua tambang emas.
Tahun ini menjadi periode yang sangat positif bagi logam mulia. Harga perak melonjak lebih dari 160% sepanjang 2025, sementara emas menguat lebih dari 66% dan menjadi aset dengan kinerja terbaik kedua.
Dengan proyeksi reli berlanjut hingga 2026, Kiyosaki mendorong investor menjadikan logam mulia sebagai instrumen investasi jangka panjang yang dapat dikaitkan dengan perencanaan pensiun demi menjaga stabilitas keuangan.
Di sisi lain, ia juga menyoroti peluang Bitcoin meski disertai risiko tinggi. Kiyosaki mengingatkan volatilitas ekstrem di pasar kripto, termasuk kejadian flash crash yang sempat menghapus ratusan miliar dolar nilai pasar dalam waktu singkat.
Meski dikenal dengan prediksi pasar yang ekstrem, Kiyosaki tetap menekankan pentingnya sikap waspada. Ia menyarankan investor untuk mencari pandangan tambahan dan memahami seluruh risiko sebelum masuk ke instrumen investasi baru.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.