Ketegangan Memuncak: AS Tembak Drone Iran di Laut Arab

Berita Terkini - Diposting pada 04 February 2026 Waktu baca 5 menit

Situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah sebuah jet tempur Angkatan Laut Amerika Serikat dilaporkan menembak jatuh drone milik Iran yang terbang mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan insiden tersebut sebagai konfrontasi terbaru antara kekuatan militer Amerika Serikat dan Iran di wilayah perairan internasional.

 

Juru bicara CENTCOM, Tim Hawkins, menjelaskan kepada Newsweek bahwa drone tersebut memperlihatkan manuver yang dianggap mengancam sebelum akhirnya dihancurkan.

 

Menurut Hawkins, drone itu bergerak secara agresif ke arah kapal induk dengan tujuan yang tidak dapat dipastikan dan tetap melanjutkan penerbangan meskipun pasukan AS telah melakukan berbagai langkah de-eskalasi saat beroperasi di perairan internasional, Selasa (3/2/2026) waktu setempat.

 

Drone yang diidentifikasi sebagai Shahed-139 itu ditembak jatuh oleh jet tempur F-35C yang lepas landas langsung dari USS Abraham Lincoln. Data militer menunjukkan kapal induk tersebut berada sekitar 500 mil dari pesisir selatan Iran. Militer AS menegaskan tidak ada korban luka maupun kerusakan pada aset tempur dalam kejadian tersebut.

 

Ketegangan kemudian berlanjut beberapa jam setelahnya. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dilaporkan mengintimidasi kapal tanker komersial berbendera Amerika Serikat, M/V Stena Imperative, saat melintas di Selat Hormuz. Dua kapal cepat IRGC bersama satu unit drone Mohajer mendekati tanker tersebut dengan kecepatan tinggi dan mengancam akan melakukan penyitaan.

 

CENTCOM menyebut bahwa kapal dagang berbendera dan diawaki warga AS tersebut tengah berlayar secara sah di jalur laut internasional ketika mengalami gangguan. Situasi berhasil dikendalikan setelah kapal perusak USS McFaul (DDG 74) memberikan perlindungan defensif dengan dukungan udara dari Angkatan Udara AS, sehingga kapal tanker dapat melanjutkan pelayaran dengan aman.

 

Serangkaian insiden ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang sedang diinisiasi Turki untuk mempertemukan kedua negara. Meski ketegangan meningkat, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa jalur dialog masih diupayakan.

 

Leavitt menyatakan Presiden Donald Trump tetap memprioritaskan diplomasi, meskipun menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki berbagai opsi jika diperlukan.

 

Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memperingatkan bahwa setiap serangan dari AS berpotensi memicu perang regional berskala besar. Iran menegaskan tidak menginginkan konflik, tetapi siap membalas setiap bentuk agresi.

 

Menanggapi pernyataan tersebut, Presiden Trump menekankan bahwa tercapainya kesepakatan nuklir menjadi kunci utama untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

 

Penempatan USS Abraham Lincoln di kawasan tersebut dimaksudkan untuk memperkuat efek pencegahan dan menjaga stabilitas regional. Namun, penggunaan drone Shahed oleh Iran—yang juga banyak digunakan dalam konflik Ukraina—tetap dinilai sebagai ancaman serius bagi jalur pelayaran komersial dan operasi militer di wilayah udara yang semakin padat.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.