Rupiah Terus Melemah! 6 Emiten Ini Berisiko Masuk Zona Merah, Investor Wajib Waspada

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 05 June 2026 Waktu baca 5 menit

Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), bahkan semakin rentan mengalami pelemahan lanjutan. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi perusahaan yang memiliki kewajiban dalam denominasi dolar AS karena beban utang mereka berpotensi meningkat.

 

Berdasarkan data Refinitiv, hingga Jumat (5/6/2026) pukul 11.00 WIB, rupiah berada di level Rp18.025 per dolar AS. Sepanjang tahun berjalan, mata uang domestik tersebut telah melemah sekitar 8,04%, sekaligus kembali mencatat posisi terlemah sepanjang sejarah.

 

Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh berbagai sentimen negatif global, mulai dari ketidakpastian geopolitik internasional, potensi peningkatan inflasi, hingga arus keluar modal (outflow) dari pasar keuangan domestik, baik di pasar saham maupun surat utang.

 

Situasi ini meningkatkan beban biaya bagi pelaku usaha, khususnya perusahaan yang bergantung pada kegiatan impor. Kebutuhan pembelian bahan baku dari luar negeri menjadi lebih mahal akibat selisih kurs yang semakin besar.

 

Selain itu, perusahaan yang memiliki kewajiban dalam dolar AS maupun mata uang asing lainnya juga berisiko mengalami dampak negatif ketika rupiah terus melemah.

 

Berikut sejumlah emiten yang dinilai rentan terdampak pelemahan rupiah, dengan perbandingan nilai kewajiban saat kurs berada di Rp17.110 per dolar AS dan ketika berada di kisaran Rp18.010 per dolar AS.

  1. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP)

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) termasuk salah satu perusahaan terbuka yang memiliki eksposur terhadap perubahan nilai tukar rupiah.

Mengacu pada laporan keuangan hingga akhir 2025, total liabilitas dalam mata uang asing per 31 Desember 2025 dengan asumsi kurs Rp17.110 per dolar AS mencapai sekitar Rp48,60 triliun. Dengan kurs yang lebih lemah saat ini, nilainya meningkat menjadi sekitar Rp51,12 triliun.

 

Kontributor terbesar berasal dari Obligasi Global senilai US$2,75 miliar yang nilainya meningkat dari sekitar Rp47,05 triliun menjadi Rp49,53 triliun. Sementara itu, kewajiban lain dalam dolar AS, termasuk utang usaha, tercatat sebesar US$46,41 juta atau meningkat dari Rp794,07 miliar menjadi Rp835,84 miliar.

 

Liabilitas dalam mata uang lain seperti Riyal Arab Saudi, Lira Turki, dan Yen Jepang memiliki nilai gabungan sekitar Rp754,70 miliar.

 

Sampai akhir periode pelaporan, perusahaan belum menerapkan kebijakan lindung nilai (hedging) formal untuk mengurangi risiko perubahan nilai tukar mata uang asing.

  1. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)

Sebagai induk usaha ICBP, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) juga memiliki paparan terhadap fluktuasi kurs rupiah.

 

Per 31 Desember 2025, total liabilitas mata uang asing dengan asumsi kurs Rp17.110 per dolar AS mencapai sekitar Rp56,66 triliun. Dengan kurs yang lebih tinggi, nilainya meningkat menjadi sekitar Rp58,53 triliun.

 

Porsi terbesar berasal dari kewajiban jangka panjang, termasuk Obligasi Global dan pinjaman bank, sebesar US$2,84 miliar yang nilainya naik dari Rp48,52 triliun menjadi Rp51,15 triliun.

 

Selain itu, terdapat utang bank jangka pendek sebesar US$384,93 juta yang meningkat dari Rp6,58 triliun menjadi Rp6,93 triliun. Utang usaha dan kewajiban operasional lain dalam dolar AS senilai US$55,04 juta juga naik dari Rp941,73 miliar menjadi Rp991,27 miliar.

 

Liabilitas dalam mata uang selain dolar AS seperti Yen Jepang, Riyal Arab Saudi, dan Lira Turki memiliki nilai kumulatif sekitar Rp620 miliar. Pada periode tersebut, perusahaan juga belum memiliki kebijakan hedging formal untuk mengelola risiko nilai tukar.

  1. PT Modernland Realty Tbk (MDLN)

Perusahaan properti PT Modernland Realty Tbk (MDLN) juga termasuk emiten yang terdampak perubahan nilai tukar rupiah.

 

Hingga akhir 2025, total liabilitas valuta asing perusahaan dengan asumsi kurs Rp17.110 per dolar AS mencapai sekitar Rp5,28 triliun. Dengan kurs yang lebih lemah, nilainya meningkat menjadi sekitar Rp5,56 triliun.

 

Seluruh kewajiban tersebut berdenominasi dolar AS. Bagian terbesar berasal dari obligasi senilai US$274,51 juta yang meningkat dari sekitar Rp4,94 triliun dan akan jatuh tempo pada April 2027.

 

Selain itu, perusahaan memiliki pinjaman sindikasi sebesar US$31,30 juta yang meningkat dari Rp535,54 miliar menjadi Rp563,71 miliar dan akan jatuh tempo pada Januari 2027. Beban akrual sebesar US$3,05 juta juga meningkat dari Rp52,19 miliar menjadi Rp54,93 miliar.

 

Untuk mengurangi risiko nilai tukar, perusahaan menggunakan instrumen derivatif berupa kontrak forward mata uang dan melakukan pemantauan berkala terhadap kondisi ekonomi.

  1. PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL)

Di sektor telekomunikasi, PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) mencatat total liabilitas valuta asing sebesar Rp1,15 triliun pada akhir 2025 yang meningkat menjadi sekitar Rp1,21 triliun.

Liabilitas tersebut berasal dari utang usaha kepada pemasok sebesar US$67,12 juta yang nilainya meningkat dari Rp1,15 triliun menjadi Rp1,20 triliun, serta beban akrual sebesar US$0,22 juta yang naik dari Rp3,76 miliar menjadi Rp3,96 miliar.

 

Berbeda dengan periode sebelumnya, pada akhir 2025 perusahaan sudah tidak lagi memiliki pinjaman bank jangka panjang maupun obligasi dalam mata uang asing.

 

Risiko nilai tukar saat ini terutama berasal dari kewajiban pembayaran kepada pemasok terkait belanja modal. Untuk mengelola risiko tersebut, manajemen melakukan pemantauan dan evaluasi rutin melalui fungsi treasury sesuai kebijakan yang telah disetujui Direksi.

  1. PT Harum Energy Tbk (HRUM)

Di sektor energi, PT Harum Energy Tbk mencatat total liabilitas dalam dolar AS per 31 Desember 2025 sekitar Rp24,58 triliun dengan asumsi kurs Rp17.110 per dolar AS. Dengan kurs yang lebih tinggi, nilainya meningkat menjadi sekitar Rp25,88 triliun atau setara US$1,43 miliar.

Perusahaan menggunakan dolar AS sebagai mata uang fungsional sekaligus mata uang pelaporan keuangan, sehingga angka tersebut mencerminkan keseluruhan kewajiban dalam dolar AS yang dimiliki grup.

Bagian terbesar berasal dari utang kepada pemegang saham non-pengendali entitas anak sebesar US$628,97 juta yang meningkat dari Rp10,76 triliun menjadi Rp11,33 triliun.

Komponen besar lainnya adalah fasilitas pinjaman bank jangka panjang, termasuk bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun, sebesar US$616,67 juta yang meningkat dari Rp10,55 triliun menjadi Rp11,11 triliun.

 

Sisa liabilitas dolar AS lainnya terdiri atas utang usaha, utang lain-lain, beban akrual, dan kewajiban perpajakan dengan total sekitar US$191,31 juta atau meningkat dari Rp3,27 triliun menjadi Rp3,45 triliun.

 

Dalam mengelola risiko kurs, perusahaan menerapkan strategi natural hedging dengan menyesuaikan penerimaan dan pengeluaran kas dari aktivitas operasional maupun pendanaan dalam mata uang yang sama.

  1. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF)

Sebagai salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) memiliki total liabilitas valuta asing per 31 Desember 2025 sekitar Rp1,83 triliun dengan asumsi kurs Rp17.110 per dolar AS. Nilai tersebut meningkat menjadi sekitar Rp1,90 triliun ketika kurs melemah.

 

Sebagian besar kewajiban tersebut berada dalam denominasi dolar AS dengan total US$75,26 juta, yang nilainya meningkat dari Rp1,28 triliun menjadi Rp1,36 triliun.

 

Komponen utamanya terdiri atas utang usaha dan utang lain-lain sebesar US$65,27 juta yang meningkat dari Rp1,12 triliun menjadi Rp1,17 triliun, pinjaman konversi sebesar US$8,52 juta yang naik dari Rp145,82 miliar menjadi Rp153,45 miliar, beban akrual sebesar US$1,38 juta yang meningkat dari Rp23,57 miliar menjadi Rp24,85 miliar, serta liabilitas sewa sekitar US$80 ribu yang naik dari Rp1,41 miliar menjadi Rp1,44 miliar.

 

Kewajiban dalam mata uang selain dolar AS seperti Euro, Peso Filipina, Yuan China, dan Baht Thailand memiliki nilai gabungan sekitar Rp541,90 miliar.

Untuk mengurangi dampak fluktuasi kurs, perusahaan tidak menggunakan kebijakan hedging formal. Sebagai gantinya, perusahaan memastikan ketersediaan valuta asing untuk kebutuhan impor, melakukan pemantauan pasar secara intensif, serta mengatur waktu pembelian valuta asing secara optimal.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.