Investor Wajib Tahu! Ini Alasan IHSG Ambles 2,5% dan Kalah dari Bursa Asia

Saham News - Diposting pada 05 June 2026 Waktu baca 5 menit

Mayoritas bursa saham Asia bergerak di zona merah pada perdagangan siang hari ini. Di antara seluruh indeks utama kawasan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat pelemahan paling tajam dengan penurunan lebih dari 2,5%, sejajar dengan tekanan yang dialami indeks KOSPI Korea Selatan.

 

Pada penutupan sementara perdagangan Sesi I, Jumat (5/6/2026), IHSG berada di level 5.692 atau melemah 2,53% dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.

 

Sepanjang sesi perdagangan hari ini, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 5.860 dan turun hingga level terendah 5.673.

 

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), aktivitas perdagangan melibatkan sekitar 25,25 miliar saham dengan total nilai transaksi mencapai Rp21,08 triliun. Frekuensi transaksi yang tercatat mencapai 1,32 juta kali.

 

Sementara itu, indeks LQ45 berada pada posisi 566,6 setelah mengalami penurunan sebesar 2,46% secara point-to-point.

 

Seluruh sektor saham mengalami tekanan. Penurunan terdalam terjadi pada sektor transportasi, keuangan, dan energi yang masing-masing terkoreksi 4,44%, 4,07%, dan 3,93%. Pelemahan juga terjadi pada sektor infrastruktur serta konsumen non-primer yang masing-masing turun 3,87% dan 3,26%.

 

Pada saat yang sama, sejumlah saham mencatat penurunan signifikan dan masuk dalam daftar top losers. Saham PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC) merosot 14,8%, saham PT WEHA Transportasi Indonesia Tbk (WEHA) terkoreksi 14,7%, sementara saham PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) turun hingga 14,5%.

 

Bursa saham Asia secara umum juga mengalami pelemahan dan berada di wilayah negatif, namun penurunan IHSG menjadi yang paling dalam dibandingkan indeks lainnya.

 

Indeks KOSPI (Korea Selatan), TAIEX (Taiwan), CSI 300 (China), Hang Seng (Hong Kong), NIKKEI 225 (Jepang), Shenzhen Composite (China), Shanghai Composite (China), FTSE Straits Times (Singapura), dan SET Index (Thailand) masing-masing mengalami penurunan sebesar 5,41%, 1,33%, 1,24%, 1,14%, 1,10%, 0,64%, 0,37%, 0,19%, dan 0,16%.

 

Lebih lanjut, berdasarkan data Bloomberg, IHSG tercatat sebagai indeks saham dengan performa terburuk di kawasan Asia sepanjang tahun 2026. Sejak awal tahun hingga saat ini, IHSG telah terkoreksi sebesar 34,17% secara year-to-date.

 

Rupiah Mencapai Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah

Dari sisi domestik, pelemahan nilai tukar rupiah menjadi salah satu sentimen negatif utama yang membebani pergerakan IHSG. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah terus mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

 

Pada perdagangan pasar spot siang hari pukul 13.30 WIB, nilai tukar berada di kisaran Rp18.042 per dolar AS, atau melemah 0,05% dibandingkan posisi sebelumnya.

 

Data Bloomberg menunjukkan bahwa rupiah sempat mencapai level terendah intraday di Rp18.074 per dolar AS, sekaligus mencatatkan rekor terlemah sepanjang masa terhadap mata uang Amerika Serikat.

 

Sepanjang tahun 2026, rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia setelah mengalami depresiasi sebesar 7,49% secara year-to-date.

 

Pelemahan rupiah diduga dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi defisit fiskal serta defisit neraca transaksi berjalan. Pada Kuartal I-2026, Neraca Pembayaran Indonesia mencatat defisit sebesar US$9,15 miliar, lebih besar dibandingkan defisit kuartal sebelumnya yang sebesar US$6,07 miliar.

 

Selain itu, transaksi berjalan juga mencatat defisit sebesar US$4 miliar atau setara 1,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Kondisi ini berbalik tajam dari kuartal sebelumnya yang masih membukukan surplus sebesar US$2,5 miliar. Dengan demikian, dalam satu kuartal terjadi perubahan posisi sebesar US$6,5 miliar.

 

Di samping itu, ketidakpastian dan inkonsistensi kebijakan masih menjadi perhatian utama investor, yang tercermin dari tingginya premi risiko yang dibebankan terhadap aset-aset keuangan Indonesia.

 

Tekanan tersebut juga terlihat jelas di pasar Surat Utang Negara (SUN). Imbal hasil pada hampir seluruh tenor, baik jangka pendek, menengah, maupun panjang, bergerak naik secara bersamaan. Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak investor melakukan aksi jual terhadap obligasi domestik.

 

Fenomena inversi kurva imbal hasil juga masih berlangsung, di mana yield SUN tenor satu tahun berada pada level 7,18%, lebih tinggi dibandingkan yield tenor 10 tahun yang hanya sebesar 6,85%. Yield tenor dua tahun tercatat 6,94%, sementara tenor 16 tahun dan 20 tahun masing-masing berada di level 6,98%, serta tenor 40 tahun sebesar 6,92%. Struktur kurva tersebut menunjukkan bentuk yang tidak lagi menanjak secara normal.

 

Dalam kondisi pasar yang sehat, kurva imbal hasil umumnya bergerak sebaliknya. Investor biasanya meminta tingkat pengembalian yang lebih tinggi untuk investasi jangka panjang karena risiko yang harus ditanggung juga lebih besar.

 

Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menilai bahwa munculnya kurva imbal hasil yang terbalik pada pasar SUN perlu dipandang sebagai indikasi adanya tekanan pasar jangka pendek yang cukup serius.

 

Menurut Josua Pardede, apabila kurva imbal hasil mengalami inversi, hal tersebut mencerminkan bahwa pasar lebih mengkhawatirkan risiko jangka pendek, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan likuiditas, arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate), potensi arus modal keluar, serta kebutuhan pemerintah dalam menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) di tengah kondisi pasar yang masih rapuh.

Sumber: bloombergtechnoz.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.