Berita Terkini
4 Cara Sederhana Mengelola Emosi Saat Berbisnis-Kunci Sukses Pelaku Usaha
/index.php
Saham News - Diposting pada 23 April 2026 Waktu baca 5 menit
Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali melanjutkan rangkaian diskusi dengan MSCI.
Fokus utama BEI dalam pertemuan tersebut adalah memberikan penjelasan atas sejumlah kekhawatiran yang masih dimiliki penyedia indeks global itu, khususnya terkait peningkatan transparansi kepemilikan saham di pasar domestik.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyampaikan bahwa pihaknya akan menguraikan berbagai concern yang masih menjadi perhatian MSCI, sebagaimana disampaikan dalam keterangan resmi pada Kamis (23/4/2026).
Nyoman menjelaskan bahwa saat ini MSCI tengah mengevaluasi implementasi reformasi terkait keterbukaan data kepemilikan saham serta likuiditas pasar di bursa Indonesia. Selain itu, MSCI juga meminta masukan dari para klien dan pelaku pasar terhadap perubahan yang telah dilakukan oleh otoritas bursa di dalam negeri.
Di sisi lain, ia menilai langkah perbaikan transparansi tersebut mulai menunjukkan dampak positif. Kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia disebut mulai mengalami peningkatan secara bertahap.
Ia menambahkan bahwa sejak pengumuman reformasi transparansi pasar pada 2 April 2026, IHSG telah mengalami kenaikan sekitar 8%, dari posisi 7.026 hingga ditutup di level 7.559.
Sebelumnya, MSCI kembali menunda evaluasi terhadap konstituen saham Indonesia dalam rebalancing periode Mei 2026, meskipun reformasi pasar telah dilakukan oleh otoritas terkait.
Dalam pernyataan resminya, MSCI menyebutkan masih menilai konsistensi dan efektivitas data serta kebijakan yang diterapkan, termasuk aturan baru terkait batas minimum free float sebesar 15%.
Akibat penundaan tersebut, MSCI belum akan menambahkan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes. Selain itu, tidak akan ada peningkatan foreign inclusion factor (FIF), penyesuaian jumlah saham, maupun perubahan klasifikasi indeks.
Meski demikian, MSCI tetap akan mengeluarkan saham yang termasuk kategori high shareholding concentration (HSC) serta menggunakan data pemegang saham 1% untuk menghitung ulang free float, walaupun penerapan penuh data tersebut masih menunggu selesainya proses evaluasi.
MSCI menegaskan bahwa mereka masih meninjau cakupan, konsistensi, serta efektivitas kebijakan dan data baru yang diperkenalkan oleh otoritas Indonesia.
Terkait potensi arus keluar dana, sejumlah analis memperkirakan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Market akan menurun setelah adanya risiko penghapusan beberapa saham konglomerasi dari indeks tersebut.
Henry Wibowo, Co-Founder Alphagate Capital sekaligus mantan Chief Indonesia Strategist di J.P. Morgan, menyatakan bahwa penurunan bobot tersebut berpotensi diikuti oleh keluarnya dana asing dalam jumlah besar dari pasar modal Indonesia.
Meski demikian, ia menilai pasar telah lebih dulu mengantisipasi kemungkinan keluarnya saham-saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tersebut.
Menurut Henry, penundaan lanjutan dalam rebalancing Mei mendatang sudah diperkirakan dan telah tercermin pada kondisi pasar saat ini.
Ia juga menambahkan adanya potensi penurunan bobot lebih lanjut pada saham-saham dengan free float riil rendah, seiring penggunaan data pemegang saham 1% yang baru dirilis regulator.
Henry memperkirakan bobot Indonesia di MSCI Emerging Market akan turun sekitar 0,2%–0,3% dari posisi saat ini sekitar 1%, dengan potensi arus keluar dana asing mencapai US$1,5 miliar hingga US$3 miliar, tergantung besarnya pengurangan bobot dan jumlah saham yang dihapus.
Sementara itu, Managing Director Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, berpendapat bahwa saham yang akan dikeluarkan dari MSCI kemungkinan terbatas pada emiten dengan kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi (HSC).
Namun, ia memperkirakan penurunan bobot Indonesia di indeks global tersebut bisa lebih dalam, dengan dua saham HSC menyumbang sekitar 5 basis poin terhadap penurunan.
Menurutnya, bobot Indonesia di MSCI Asia Emerging Index telah turun sebesar 0,37% secara year-to-date.
Dari sisi arus dana, outflow investor asing pada Maret tercatat sekitar Rp23,3 triliun atau setara US$1,4 miliar.
Namun, jika transaksi besar di pasar negosiasi dikecualikan, nilai jual bersih sebenarnya lebih mendekati Rp9 triliun atau sekitar US$530 juta.
Jika digabung dengan arus keluar pada Februari dengan metode yang sama, serta tambahan outflow sebesar Rp3,4 triliun hingga awal April, kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen investor asing masih cenderung lemah.
Sufianti, Equity Strategist Bloomberg Intelligence, menyatakan bahwa tekanan jual tersebut banyak terjadi pada saham-saham LQ45, yang menandakan investor asing mengurangi eksposur melalui saham-saham paling likuid di pasar.
Meskipun demikian, kondisi ini juga memberikan sisi positif karena valuasi saham menjadi lebih menarik, dengan rasio valuasi IHSG dan LQ45 mendekati titik terendah setelah mengalami penurunan dua digit.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.